Tiga tahun bergerak dalam industri majalah, WARN!NG Magazine akhirnya meluncurkan buku perdananya dengan judul Questioning Everything pada Kamis (17/3) di IFI-LIP Yogyakarta. Dipandu oleh Kiki Pea, acara tersebut menghadirkan tiga pembicara, yakni Soni Triantoro dan Tomi Wibisono, selaku penyusun buku, serta Risky Sasono atau yang lebih dikenal dengan Risky Summerbee & The Honeythief.

Dalam acara peluncuran itu, Tomi mengatakan bahwa alasannya memilih “Questioning Everything” sebagai judul ditujukan sebagai upaya kampanye. Menurutnya, anak-anak muda tidak pernah dididik untuk mempertanyakan segalanya, akibatnya mereka hanya menurut saja apa kata orang.

“Selain karena judulnya cukup representatif dengan isinya, (Questioning Everything) juga semacam campaign untuk generasi muda, kita pertanyakan semua hal, jadi enggak manut-manut aja,” ujarnya.

Tak sekadar berisi seputar musik dan film, dalam setiap wawancara Tomi selalu menyelipkan isu-isu sosial politik yang ada. Hal ini sejalan dengan kampanye yang dimaksudkan Tomi tadi. “Harapannya begini, ketika yang berbicara adalah mulut orang-orang populer, itu akan mudah dicerna dan diterima oleh khalayak muda,” jelasnya.

Hal menarik dari buku ini sendiri terdapat pada model penyusunan yang berformat “Question-Answer”. Oleh Soni, model tersebut dipilih karena data yang disajikan terlihat lebih transparan dan objektif. “Lagipula, dengan format Q-A kami juga bisa menyisipkan provokasi-provokasi yang kupikir agak sulit ketika dinarasikan,” tambah Tomi.

Terkait dengan hal tersebut, Risky pun menambahkan bahwa sebetulnya ada dua konsekuensi yang muncul dari pemilihan format tulisan. “Pertama, sangat kaya, artinya ada banyak isu yang tertangkap karena banyak sekali cerita dan subcerita yang mucul. Di sisi lain, jadi tidak fokus, kemana-mana,” jelasnya.

Akan tetapi, baginya hal tersebut bukan masalah besar. “Sebab, itu questioning everything, entah berkaitan dengan kiprah seorang musisi atau moviemaker, sah-sah saja. Apalagi dengan latar belakang mereka sebagai mahasiswa sospol, hal itu menjadi menarik karena menyambung dengan subjudul, artinya mereka sudah punya plot akan digiring kemana buku ini,” tambah Risky.

Sementara itu, untuk pemilihan narasumber yang masuk dalam buku ini, Soni mengatakan terdiri atas dua tahap. “Pertama, sedikit banyak sama dengan logika jurnalistik, yakni nilai berita. Yang kedua, agak berbeda-beda parameternya. Ada yang kekuatannya ada pada narasumbernya, seperti Sheila on 7. Ada juga yang karena dialog yang terbentuk dari wawancara menghasilkan sesuatu yang kami bilang substansial dan mehadirkan wawasan yang oke, misalnya waktu wawancara Joshua Oppenheimer,” jelas Soni.

Dalam penyusunan buku berisi kumpulan 27 wawancara terbaik WARN!NG Magz tersebut, Soni dan Tomi tentu mengalami berbagai hambatan. “Secara umum, duit. Ongkos produksi mahal. Tapi, akhirnya bisa terwujud dengan jaringan pertemanan, banyak yang mendukung,” pungkas Tomi.