Judul: Aku Bisa Nulis Fiksi
Penulis: Joni Ariadinata
Penerbit: DIVA Press
Terbit: 2016
Tebal: 456 halaman
ISBN: 978-602-391-028-1

Perkenalan saya dengan cerpen dimulai dari Robohnya Surau Kami milik A. A. Navis. Setelah membaca cerpen itu, saya sadar bahwa ternyata menulis cerpen tidak semudah yang saya bayangkan. Awalnya, sebelum membaca cerpen itu, saya menganggap “derajat” cerpen berada di bawah novel. Anggapan dangkal ini didasarkan pada asumsi saya bahwa novel memiliki tingkat “kerumitan” yang lebih tinggi daripada cerpen, yang mana terlihat dari jumlah halaman yang mencolok –cerpen cenderung berkisar antara 5 hingga 20 halaman, sedangkan novel lebih dari itu, bahkan ribuan.

Dari kerumitan itu, saya pun jadi tertarik untuk menulis cerpen. Selain karena tertantang, pikir saya menulis cerpen tidaklah memakan waktu yang lama –ketimbang menulis novel.

Akan tetapi, setelah saya coba sendiri, ternyata apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi bahwa menulis cerpen tidak semudah yang saya bayangkan. Keterbatasan halaman, yang mana cenderung pendek, membuat pesan yang hendak disampaikan oleh penulis pemula seperti saya, justru menjadi kendala tersendiri.

Perlahan, stigma buruk saya bahwa menulis cerpen itu mudah semakin sirna saat saya membaca buku Aku Bisa Nulis Fiksi milik Joni Ariadinata, redaktur Majalah Horison dan sekarang menjadi editor cerpen di basabasi.co. Dalam proses pembacaan buku tersebut, saya menemukan banyak sekali pencerahan tentang bagaimana cara menulis fiksi, terutama cerpen.

Buku ini memaparkan bahwa ada banyak hal yang dibutuhkan untuk menulis sebuah cerpen. “Menulis cerpen yang bagus mutlak dibutuhkan dua unsur yang terus menerus bergandengan tangan dengan serius: kemampuan menguasai teknik dan mengetahui betul apa yang ditulis,” tulis sang penulis pada blurb buku ini.

Lebih jauh, dengan bahasa yang lugas, buku ini juga memberikan pemahaman yang asyik mengenai bagaimana cara menulis cerpen bermutu. Misalnya dalam bab yang mengulas cerpen karya Nita Fuji Astusti, Hujan Pertama, Joni Ariadinata memaparkan analisisnya dengan bahasa yang mudah dipahami, “Hanya saja, seperti halnya sifat yang juga menghinggapi banyak pengarang lain, ia merasa ‘gatal’ untuk berbicara lebih banyak. Barangkali supaya dianggap lebih komplet… Padahal justru sebaliknya.” (Hlm. 92)

Selain itu, penyampaian teori sastra dalam buku ini pun tidak disampaikan dengan bahasa yang melulu formal dan rumit. Ia disampaikan dengan bahasa yang “membumi”, sehingga orang awam pun tidak merasa kesulitan dalam memahaminya.

Misalnya saja dalam bab berjudul Perjumpaan di Pasar yang bercerita mengenai perjumpaan antara empat orang sahabat di sebuah pasar. Joni Ariadinata menjelaskan bahwa penggambaran atau pendeskripsian kisah perjumpaan di pasar bisa sangat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Ini tergantung dari gaya penulisan dan pengalaman yang mereka punya.

“Gaya yang melekat secara alami pada dirinya. Setiap orang berbeda-beda. Nah, di samping gaya yang telah dipelajari, seperti misalnya gaya para penjual menawarkan barang, dan gaya pembeli menawarkan sebuah barang, gaya semacam ini didapat lewat pengetahuan. Baik secara empirik, bisa lewat bacaan…” (Hlm. 205)

Terakhir, dalam buku ini disertakan pula cerpen-cerpen yang telah dianalisis oleh beberapa penulis, misalnya Responden (Dewi Ananda) dan Raul (Maya Lestari, Gf.). Penyertaan cerpen yang dianalisis ini tentunya bermanfaat bagi penulis cerpen pemula, tak terkecuali saya, untuk pembelajaran sekaligus perbandingan agar cerpen yang kita tulis bisa lebih bermutu. Bagian terbaiknya, Joni Ariadinata menyampaikan seluruh isi buku ini dengan cara yang jauh dari kesan menggurui.

Nah, tertarik untuk menulis cerpen? Maka, tak ada salahnya untuk bacasaja Aku Bisa Nulis Fiksi!