Judul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: ke-24, September 2016
Tebal: 551 halaman
ISBN: 978-979-97312-3-4

Minke memang terlahir sebagai seorang pribumi tulen yang sama sekali tidak memiliki tautan darah ataupun persaudaraan dengan kaum Eropa. Namun, keputusan orangtuanya yang menyekolahkan Minke pada sekolah Belanda telah menghantarkannya pada muara ilmu pengetahuan. Kesukaannya untuk mencatat, membaca, dan hadir dalam setiap diskusi yang diadakan oleh gurunya, Juffrow Magda Pieters, di H.B.S Surabaya telah membentuknya sebagai pribadi yang cakap, pintar, dan kritis.

Di tengah kekagumannya pada ilmu pengetahuan, sebagai seorang laki-laki biasa, Minke tetaplah sama. Hasrat, naluri, serta kekagumannya untuk menggandeng seorang wanita berparaskan bidadari tetap tak bisa dielak. Kunjungan yang digagas secara mendadak dan tidak sengaja oleh Robert Surhoff – teman sekolah Minke – ke suatu rumah besar nan mewah yang ternyata merupakan Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian) telah mempertemukannya dengan Anneliese Mellema, seorang gadis Indo berparas ayu. Tak ayal pertemuan tersebut kemudian menumbuhkan benih-benih saling suka antara Minke dengan Anneliese Mellema.

Di tengah mulai tumbuhnya bunga-bunga asmara antara Minke dengan Anneliese Mellema, Minke dihadapkan pada sebuah dilema besar. Sebab, Anneliese Mellema adalah anak dari seorang gundik (sebutan bagi wanita yang dibeli oleh Kaum Eropa pada zaman kolonialisme), bernama Nyai Ontosoroh dengan tuannya, Herman Mellema. Kerisauan akan dilema yang dihadapinya tersebut lantas ia tumpahkan pada teman dekat sekaligus tetangganya, yakni Jean Marais, seorang pekerja seni asal Prancis yang telah tinggal cukup lama di Surabaya.

“Aku mengerti. Kau dalam kesulitan, itu parahnya kalau orang tak dapat dikatakan jatuh cinta. Dengar, Minke, darah mudamu ingin memiliki dia untuk dirimu sendiri, dan kau takut pada pendapat umum.” Lambat-lambat ia tertawa. ”Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. Datanglah kau padanya barang dua-tiga kali, nanti kau akan dapat lebih mengetahui benar-tidaknya pendapat umum itu.” – halaman 77.

Kegalauan yang teramat mendalam tersebut akhirnya ia terobos dengan memilih jalan untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan gadis pujaannya itu. Berbagai desas-desus (sassus) pun ia terima dari berbagai sisi, mulai dari teman-teman satu sekolahnya hingga dari keluarganya sendiri, yang belakangan diketahui ayahnya telah menjadi seorang Bupati di daerah B. Namun, sassus yang ia terima tersebut nyatanya tidak lantas meredupkan semangat dan keteguhan Minke untuk tetap menjalin hubungan dengan Anneliese Mellema dan keluarga barunya di Wonokromo.

Selain sassus yang tak kunjung dapat terkonfirmasi kebenarannya itu, Minke juga dihadapkan pada ancaman pembunuhan. Darsam, seorang pendekar Madura dan pengikut setia Nyai Ontosoroh, memberi Minke informasi bahwa ia tengah menjadi objek sasaran oleh pembunuh bayaran yang disewa Robert Mellema, kakak Anneliese, akibat cemburu melihat kedekatan Minke dengan keluarganya.

Klimaksnya Minke dan Nyai Ontosoroh diharuskan berpisah dengan Anneliese Mellema ketika Pengadilan Putih memutuskan bahwa ia harus dibawa ke Belanda. Keputusan ini tak lepas dari akibat kematian Tuan Herman Mellema secara mendadak di rumah plesir babah Ah Tjong, yang sempat menjadi pemberitaan hangat publik. Dengan dalih bahwa Anneliese sudah tidak memiliki sanak saudara yang mampu menanggung keberadaannya, berikut dengan usianya yang menurut Pengadilan Putih masih dibawah umur, serta tidak diakuinya pernikahan syah menurut Islam antara Minke dengan Anneliese maka terpisahlah sudah hidup antara ketiganya.

Sayup-sayup roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Anneliese dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menundukkan kepala di belakang pintu. “Kita kalah, Ma,” bisikku, “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” – halaman 535.

Karya pertama dari Tetralogi Buru oleh Pramoedya Ananta Toer ini memang menakjubkan. Penyuguhan ceritanya begitu detail serta mampu membangkitkan emosi serta fantasi pembaca ke zaman kolonial masa lampau. Alur ceritanya pun begitu mengalir dan dramatis -meski jalan ceritanya berakhir dengan tragis. Tak ayal jika karya ini sempat beberapa kali mendapatkan penghargaan bidang sastra, baik nasional maupun internasional.

Potret kesengsaraan pribumi begitu sempurna ditampilkan, melalui wujud Nyai Ontosoroh. Dimana dahulu ia dijual oleh orang tuanya untuk sekadar bisa menaikkan jabatan ayahnya agar menjadi seorang juru bayar di perusahaan gula hingga transformasinya menjadi seorang wanita modern yang mampu menulis, membaca, dan berbahasa Belanda secara fasih, serta mampu mengatur sebuah perusahaan besar.

Perlawanan gigih nan intelek ditampilkan dengan lengkap tatkala Minke dan Nyai Ontosoroh diharuskan bersaksi di depan Pengadilan Putih ketika kasus kematian Tuan Mellema diungkap. Kasus tersebut pun akhirnya turut menyeret Anneliese Mellema ke Belanda yang menyebabkan kehidupan ketiga tokoh utama ini saling berpisah satu sama lain. Segala macam perlawanan sempat ditempuh guna melindungi Anneliese Mellema agar tetap berada di Hindia. Dimulai dari melawan secara hukum, yakni menyewa pengacara, kemudian memengaruhi opini publik dengan menulis kritik tajam lewat berbagai surat kabar. Hingga pertumpahan darah antara warga Pribumi dengan tentara Belanda.

Lepas dari magisnya cerita yang dibangun, masih ada beberapa kekurangan yang turut menyertai dalam proses membingkai cerita ini. Dimulai dengan penggunaan kosakata tidak baku, seperti “komplex” (hal. 22) dan “klas”(hal.423) hingga ada beberapa kata benda yang semestinya dipisahkan dengan spasi namun nyatanya luput dari pengamatan, seperti “rumahsakit” (hal. 422). Kemudian dari segi konten, secara utuh tidak ada hal yang perlu dirisaukan hanya saja mungkin ada beberapa perbendaharaan kata yang musti kita pahami secara mendalam meskipun sejauh ini pembaca tertolong dengan catatan kaki.

Nah, penasaran dengan cerita selengkapnya? bacasaja Bumi Manusia!