Judul: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya
Penulis: Lugina W.G. dkk.
Penerbit: Diva Press
Terbit: Mei 2016
Tebal: 256 halaman
ISBN: 978-602-391-147-9

“Ini … adalah kisah-kisah yang berhasil melepaskan diri dari godaan untuk mengadirkan keutuhan satu dunia besar ke dalam satu wadah sempit bernama cerita pendek.” – Aan Mansyur.

Buku berjudul Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya merupakan sebuah antologi cerpen. Di dalamnya terdapat tiga belas cerita pendek pilihan #KampusFiksiEmas 2016.

Setelah membaca seluruh cerita di dalamnya, dalam hati saya sepakat dengan Aan Masyur bahwa cerita-cerita pendek di kumpulan ini telah berusaha dengan baik menarik lepas persoalan kecil dari satu dunia besar, kemudian menjadikannya jalan masuk baru bagi pembaca untuk kembali ke dunia dari mana cerita itu berasal. Sebab, “akar” cerita pada cerpen-cerpen ini sebetulnya sederhana saja, seperti parfum, film, dan musik.

Dari sekian belas cerpen tersebut, ada beberapa cerpen yang cukup menarik. Pertama adalah Wajah-Wajah dalam Kaset Pita. Cerpen yang ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama ini berkisah tentang seorang perempuan yang mengidap prosophenosia. Apa itu? Silakan kalian cari sendiri di mesin pencari Google, jika sudah, saya pikir kalian pasti bisa mengira-ira apa yang penulis ceritakan. Lalu, di mana poin menariknya? Ada pada permainan alur dan akhir cerita yang sepenuhnya diserahkan kepada interpretasi pembaca. Dengan memanfaatkan alur maju-mundur, sang penulis mengajak pembaca untuk meraba-raba apa yang sebetulnya terjadi pada Nima.

Cerpen menarik kedua –versi saya– adalah Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis bercerita bahwa saat malam Celia, sang tokoh utama, sering mendengar gelas-gelas yang beradu menyentuh lantai. Dia pikir, itu adalah ulah Puffin, kucingnya. Semenjak saat itu, bencilah ia kepada Puffin. Namun ternyata, apa yang selama ini dikira oleh Celia itu salah besar. Puffin sebetulnya tak pernah bertingkah nakal, ia tetaplah kucing yang manis dan lembut. Sang penulis cukup pintar dalam memainkan plot cerita. Maka, tak heran jika kemudian banyak pembaca yang merasa terkecoh dengan akhir ceritanya.

Kemudian yang ketiga adalah Kisah yang Tak Perlu Dipertanyakan. Pernah menonton film berjudul The Curious Case of Benjamin Button (2008)? Ya, kira-kira tepat seperti itulah cerita ini. Miriplah, hanya saja tokoh dalam ceritanya bukanlah Benjamin dan Daisy, melainkan Altair dan Ella. Dengan menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama, sang penulis menuliskan cerpen ini dengan bahasa yang sederhana dan tidak bertele-tele. Tidak ada yang sangat spesial sebetulnya, namun saya rasa sang penulis cukup sukses dalam mengeksekusi akhir cerita.

Nah, lepas dari masalah konten, di segi teknis, tata letak kover dan halaman dalamnya terbilang rapi. Sementara itu, desain kovernya sendiri sekilas terlihat sederhana dan tidak berlebihan. Namun, jika dicermati dengan seksama, sebetulnya kover buku ini terlihat manis dan eye catching. Lebih dari itu, poin plus lain ada pada ilustrasi di setiap cerpen. Adanya ilustrasi memberikan kesan hidup pada setiap cerita.

Terakhir, penasaran dengan cerpen-cerpen lainnya? Maka, bacasaja Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya!