Membaca menjadi salah satu cara agar dapat melihat dunia dari berbagai perspektif. Dengan membaca, tentu pikiran kita akan lebih terbuka dalam melihat berbagai hal. Banyak membaca membuat kita semakin mahir dalam mengolah pikir dan rasa. Tidak hanya itu, membaca membuat kita memiliki wawasan yang luas. Jika harus dicatat, rasanya manfaat membaca tidak akan pernah habis! Sayangnya, budaya membaca di Indonesia sangatlah rendah. Indonesia pun sangat minim dengan perpustakaan-perpustakaan yang menunjang pemberdayaan literasi. Keminiman budaya membaca ini juga menjadi latar belakang sedikitnya buku yang terbit setiap tahunnya. Adapun, sedikitnya buku yang terbit setiap tahunnya juga mempengaruhi minat baca masyarakat.

Pada tahun 2011, UNESCO melakukan sebuah penelitian tentang budaya membaca di Indonesia. Hasilnya sangat mencengangkan! Indonesia adalah negara yang memiliki minat baca paling rendah. Indek membaca hanya sampai pada skala 0,001. Artinya, dari seribu orang Indonesia, hanya satu saja di antara mereka yang membaca.  Menurut penelitian yang lainnya, masyarakat Indonesia hanya menjadikan membaca sebagai pusat informasi sebesar 23,5%, menonton televisi 85,9%, dan mendengarkan radio 40,3% (BPS, 2006).

Tentu minat baca yang begitu rendah di Indonesia menjadi salah satu persoalan pula dalam dunia perbukuan. Menurut Lucya Andam Dewi, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), jumlah penulis masih sangat sedikit. Pada 2014, buku yang terbit tidak lebih dari 30 ribu judul. Jumlah penerbit pun kurang. Anggota IKAPI yang tercatat hanya ada 1.300-an. Namun yang aktif hanya 700 sampai 800 penerbit. Selain itu, penerbitan pun terpusat di Jawa. Padahal, masih menurut Lucya, penerbit seharusnya tersebar di semua wilayah untuk mengakomodasi buku-buku berbasis kearifan lokal. Hal ini kemudian menjadi catatan kita pula bahwa tidak hanya media elektronik dan cetak saja yang harus terdesentralisasi. Namun, demi budaya membaca yang lebih baik, penerbit pun juga harus terdesentralisasi sehingga negara yang maju literasinya bisa lebih demokratis.

Akan tetapi, pada kenyataannya, buku yang terbit hanya berjumlah 30.000 judul. Jumlah ini tentu tidak sepadan dengan kepadatan penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta lebih. Padahal di negara maju, satu orang bisa membaca tiga sampai lima buku.  Sebenarnya, industri buku sendiri tidak terlepas dari penawaran dan permintaan, seperti rumus yang berlaku pada kegiatan ekonomi apa pun. Saat permintaan meningkat, penawaran pun tinggi. Masalahnya saat ini penawaran rendah, dan permintaan lebih rendah lagi. Dilansir dari tempo.co, Lucya beranggapan bahwa hal ini berkaitan dengan masa lampau Indonesia. Histori masyarakat Indonesia lebih berkaitan erat dengan lisan daripada tulisan. Sebelum literasi mampu menggenapi sejarah bangsa ini, teknologi sudah keburu masuk. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme masyarakat pada televisi yang jauh lebih tinggi daripada membaca buku.

Berbagai persoalan mengenai minat baca juga dipengaruhi oleh buku-buku yang mahal. Belum lagi saat ini pemerintah telah menetapkan pajak terhadap buku. Persoalan buku mahal mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka yang memiliki uang cukup banyak. Tetapi bagi mereka yang tidak memiliki cukup uang akan berpikir berkali-kali untuk membeli sebuah buku. Pada akhirnya, alternatif yang dilakukan adalah dengan melakukan pembajakan. Padahal kita tahu, bahwa membajak buku adalah sebuah tindakan kriminal.

Membahas budaya membaca di Indonesia memang menjadi sebuah persoalan klasik yang hingga kini  belum mampu diselesaikan. Ada banyak yang melatarbelakangi, mulai dari persoalan sosial kultural, regulasi, hingga kondisi ekonomi. Padahal membaca dapat meningkatkan daya ikat otak.  Dengan membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa latihan otak seperti membaca buku atau majalah, bermain teka-teki silang, dan lain-lain dapat menunda atau mencegah kehilangan memori. Menurut para peneliti, kegiatan ini merangsang sel-sel otak dapat terhubung dan tumbuh.

Kemajuan sebuah negara maju juga diindikasikan dengan budaya membacanya yang tinggi. Negara-negara maju memiliki perpustakaan-perpustakaan besar yang memiliki jutaan koleksi buku dan arsip. Buku-buku tersebut dapat diakses secara gratis oleh siapapun. Perpustakaan dan buku tidak hanya berada di lingkungan institusi pendidikan seperti sekolah maupun universitas. Negara-negara maju berupaya membuat masyarakatnya mencintai perpustakaan dan buku. Dalam hal ini, perpustakaan-perpustakaan gratis dibangun sebagai upaya mengembalikan ilmu kepada masyarakat. Di China, orang-orang rela mengantri demi masuk ke perpustakaan. Fenomena ini jauh berbeda di Indonesia, di mana orang lebih memilih mengantri membeli baju atau sepatu diskon.

Padahal dengan memiliki budaya membaca yang tinggi, sebuah bangsa bisa menjadi lebih maju. Menempuh jenjang pendidikan atau tidak, masyarakatnya tetap terliterasi karena akrab dengan perpustakaan dan diajarkan untuk mencintai buku.  Oleh karena itu, perlu rasanya jika kita terus menggerakkan masyarakat untuk banyak membaca. Dimulai dari diri kita sendiri, mengajak banyak orang untuk terus membaca.

Melalui sebuah portal media bacasaja.com, kami mengajak masyaraka Indonesia untuk mulai banyak membaca. Jika masyarakat masih dibingungkan dengan buku apa yang bisa dibaca, bacasaja.com akan memberikan informasi seputar buku dan dunia perbukuan. Kelak, kami berharap bacasaja.com bisa menjadi wadah bagi semua orang baik pecinta buku, penulis, penerbit, pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang memiliki keinginan untuk mencintai buku. Melalu portal mediai ini, kita juga mencoba membangun sebuah gerakan  untuk mengajak membaca buku dan menyebarkan ilmu yang kita dapat melalui buku tersebut. Sebab, kebaikan pun bisa kita berikan melalui buku. Mulai sekarang, mulailah membaca apapun, baca apa saja, dan bacalah terus. Membangun budaya membaca agar bangsa ini semakin terliterasi. (lpd)

 

bacasaja.com

Baca saja, baca terus!