Judul: The Old Man and The Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Deera Army Pramana
Penerbit: Narasi
Terbit: 2015
Tebal: 164 hlm
ISBN: 978-979-168-435-4

Menutup halaman terakhir, saya baru saja berpikir bahwa mungkin Ernest Hemingway memanglah seorang pelaut handal. Hemingway telah mengarungi lautan bahkan sampai ke dasar-dasarnya. Ia mengetahui apa saja yang ada di dalam laut, bahkan ia pernah menjelajahi setiap palung di Samudra Atlantik, terutama Gulf Stream. Tetapi, saya baru saja teringat, Hemingway bukalah pelaut – juga bukan nelayan. Ia adalah seorang penulis – juga jurnalis yang disebut-disebut memiliki pengaruh besar terhadap fiksi pada abad ke-20.

The Old Man and The Sea, adalah novel Hemingway yang berhasil menyabet Pulitzer Prize pada 1952 dan Nobel Prize 1954. Apa yang diangkat oleh Hemingway sebetulmya sederhana saja. Ia hanya menceritakan seorang nelayan yang berusaha mendapatkan ikan setelah berhari-hari menyelami kesia-siaan di lautan. Setiap pelayarannya pada malam hari hanya mendapatkan riak air laut tanpa kembali dengan sebongkah ikan besar di pagi harinya. Novel ini sendiri berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua yang berpengalaman dalam menangkap ikan. Namun, ibarat pepatah “sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga” dialami oleh Santiago dalam waktu yang cukup lama. Ia mesti melewatkan delapanpuluh empat hari tanpa menangkap seekor ikan pun.

Nasib yang dialami oleh Santiago membuatnya dipanggil salao, oleh masyarakat setempat. Salao adalah istilah setempat yang merepresentasikan bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Pada awalnnya, seorang bocah lelaki bernama Manolin sering membantunya menangkap ikan. Tetapi, karena julukan yang diterima oleh Santiago, Manolin dilarang orang tuanya untuk membantu Santiago. Akhirnya, Santiago memutuskan untuk berlayar jauh ke laut lepas untuk mencari ikan sendirian. Ia menolak tawaran Manolin yang memaksa untuk menemaninya karena Santiago tahu, orang tua Manolin tidak terlalu menyukainya. Ini adalah pelayaran Santiago yang terjauh. Ia memantapkan diri untuk mencari ikan yang sangat besar dan membawanya pulang ke daratan dengan kebanggaan.

“Seorang lelaki tak pernah tersesat di laut dan laut adalah pulau yang panjang,”- halaman 114.

Santiago menghadapi banyak hal ketika di laut. Ia berusaha memperjuangkan hidupnya yang terombang-ambing di lautan lepas. Beberapa saat ia sempat berputus ada dan mengatakan, “Aku benar-benar membelinya jika ada tempat yang menjual keberuntungan,” (hal. 150).

Membaca novel ini sampai tuntas, saya tahu mengapa karya Hemingway ini layak mendapat Pulitzer dan Nobel. Apa yang dikisahkan olehnya memang suatu hal yang sederhana. Tetapi banyak pesan yang dimuat di dalamnya – tentang persahabatan, perjuangan, kegigihan, keikhlasan, kesabaran, juga tentang pencarian jati diri. Di mana lagi kita akan berdialog dengan diri sendiri kecuali berada di tempat yang asing dan hanya ada dirimu di sana. Di sanalah tempat yang tepat untuk berdialektika dengan diri sendiri. Dan si lelaki tua ini, sepertinya baru menyadari bagaimana nikmatnya berdialog dengan diri sendiri di usianya yang seja.

Hal yang palik menarik dari buku ini adalah bagaimana piawainya Hemingway mengemas serta mengulas perjalanan lautan dengan begitu memukai. Seperti yang sudah saya ditulis di awal, saya baru saja berpikir mungkin Hemingway memang seorang nelayan. Atau setidak-tidaknya ia memang memiliki hobi memancing. Bagaimana ia mendeskripsikan lautan, ombak yang tenang, awan yang pekat, juga berbagai jenis ikan merupakan satu hal yang membuat saya benar-benar merasa di atas sampan dan sendirian di tengah lautan. Bagaimana ia mendeskripsikan pergulatan lelaki tua dengan hiu-hiu yang beringas juga menjadi pertanyaan bagi saya; jangan-jangan ini pengalaman Hemingway? Sebab, Hemingway begitu detail dalam deskripsi dan juga narasi. Ia seolah-olah mengetahui semua hal tentang lautan – apa yang ada di dalam dan di permukaan – juga berbagai fenomena lautan. Sepertinya, sebelum menulis novel ini, Hemingway telah melakukan riset yang panjang dan rumit.

Dengan konsep sesederhana itu, seharusnya novel ini menjadi sesuatu hal yang membosankan. Kita hanya mendapat dongeng lelaki tua yang berusaha menangkap ikan marlin berukuran sepanjang delapan kaki. Tetapi, Hemingway mampu mengenyahkan kebosanan itu dengan kemasan yang benar-benar menarik. Novel ini bukan hanya sekadar nelayan yang harus mendapatkan ikan besar demi menghilangkan label salao-nya. Lebih dari itu, novel ini adalah perjalanan panjang seseorang untuk mampu melepaskan keangkuhannya dalam selarik keterasingan – juga bagaimana ia menemukan kekuatannya di saat-saat paling terdesak. Bukan lagi ikan sebagai tujuan utama pelayarannya, tetapi menemukan jiwa dan makna yang sempat hilang. Dan lelaki tua itu, berhasil mendapatkan lebih dari sekadar ikan marlin.

Mudah saja jika ingin merasakan bagaimana rasanya sendirian di atas laut sembari menunggu ikan besar yang terjebak dalam kail kita, bacasaja The Old Man and The Sea.