Judul: My Sister’s Keeper
Penulis: Jodi Picoult
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kesembilan, September 2014
Tebal: 528 halaman
ISBN: 978-602-03-0891-3

“Biasanya, orangtua yang membuat keputusan bagi seorang anak, karena mereka
dianggap melakukannya demi kepentingan si anak.” – halaman 149.

Merujuk pada kutipan di atas, kenyataan yang terjadi selama ini memang begitu. Jangankan
pada anak yang berusia di bawah 16 tahun, pada anak dengan usia di atas 17 tahun pun, terkadang, sang orangtua masih “menyetir” sang anak dengan dalih bagi kebaikan mereka. Namun, apa jadinya jika sang orangtua yang bersangkutan, dalam membuat keputusan bagi sang anak, dibutakan oleh kepentingan anak mereka yang lain?

Dalam konteks novel ini, kasus tersebut dialami oleh Anna. Anna adalah seorang anak yang dilahirkan dengan rencana untuk menyelamatkan Kate, sang kakak yang menderita leukemia promielosistik akut.

Awalnya, Anna hanya direncakan untuk memberikan sel darah tali pusatnya saja. Tapi, tak disangka penyakit Kate terus kambuh dan kambuh lagi. Hal tersebut membuat Anna pada akhirnya harus mendonorkan sel darah berulang kali pada Kate.

Konflik dalam kisah ini mulai naik saat sang ibu meminta Anna untuk mendonorkan salah satunya ginjalnya kepada Kate. Di titik ini, Anna mulai mempertanyakan kendali atas dirinya sendiri. Ia pun menggugat orangtuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri.

Picoult menuliskan kisah dalam novel ini menggunakan sudut padang pertama dari para tokohnya –Anna, Campbell, Sara, Brian, Jesse, Julia, dan Kate. Saya pribadi melihat hal tersebut sebagai langkah yang tepat. Penggunaan sudut pandang orang pertama oleh Picoult membuat pembaca merasa lebih dekat dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Pembaca diajak untuk memahami bagaimana rasanya jika mereka berada di posisi Anna, Kate, Campbell, Sara, dan tokoh-tokoh lainnya. Usaha Picoult dalam memengaruhi emosi pembaca di sini, bagaimanapun, harus diapresiasi.

Lebih jauh, hal lain yang menurut saya menarik dari novel ini adalah “penyatuan” kisah antara keluarga Anna sendiri dengan kisah pribadi antara Campbell dengan Julia, yang mana nge-blend dengan baik. Mereka tidak terkesan sebagai dua kisah yang berbeda, melainkan membentuk satu-kesatuan yang utuh.

Sementara itu, meski novel yang ditulis dengan alur maju-mundur ini memiliki konsep yang bagus secara keseluruhan, namun harus saya akui bahwa pada beberapa bagian temponya terasa agak lambat. Hal tersebut kemudian membuat saya merasa agak bosan dengan jalan cerita yang disuguhkan.

Lepas dari itu, untuk segi tekni sendiri, terdapat beberapa hal yang agak saya sayangkan. Pertama, yakni soal masih adanya kesalahan penulisan. Misalnya, pada halaman 71 paragraf terakhir di mana tidak terdapat petik tutup pada dialog. Kedua, penggunaan jenis huruf yang berbeda-beda pada setiap penceritaan untuk masing-masing tokoh. Bagi saya, dengan dituliskan namanya saja, dari sudut pandang siapa cerita dituturkan itu sudah cukup. Tak perlulah berlebihan dengan menggunakan jenis huruf yang berbeda. Dan sebagai catatan lagi, jenis huruf yang digunakan pada sudut pandang penceritaan Jesse sungguhlah tidak nyaman untuk dibaca.

Ketiga, yang terakhir, ada pada terjemahannya. Saya merasa terjemahannya kurang “mengalir”. Ada hal-hal kecil yang bagi saya agak aneh. Misalnya, pada halaman 347 tertulis, “semua orang berbeda…” saya merasa lebih tepat jika yang tertulis bukanlah semua melainkan setiap. Lalu, misalnya lagi, halaman 409 di paragraf terakhir, “Aku berdiri, dengan mata petir tertera di tenggorokan…” saya merasa jika kata tertera lebih cocok jika digantikan dengan kata tertancap.

Dengan kata lain, saya merasa ada banyak padanan kata yang kurang sesuai. Sehingga, dalam membaca, secara keseluruhan, saya merasa seperti ada “jarak” yang membuat cerita tidak mengalir dengan lancar.

Untuk selebihnya, saya pikir tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Dari segi kover, tone yang digunakan terbilang cukup representatif dengan kisah di dalamnya –sendu. Desain gambarnya juga sederhana dan tidak banyak menggunakan ornamen sana-sini. Penggunaan jenis huruf pada kovernya pun tidak berlebihan, malah minimalis kalau saya bilang. Dan, tak ketinggalan, tata letaknya juga rapi.

Penasaran dengan kisah Anna dan Kate? Bacasaja My Sister’s Keeper!