Indonesia mesti berduka karena kehilangan tokoh terbaiknya dalam bahasa dan linguistik, Jusuf Syarif Badudu pada Sabtu (12/03) malam. Lelaki yang lebih dikenal sebagai JS Badudu tersebut meninggal di usia 89 karena penyakit stroke. Selama hidupnya,  JS Badudu memang telah mengabdikan dirinya untuk bahasa Indonesia.

Sejak berusia 15 tahun, JS Badudu telah menjadi guru dan baru mengakhiri pengabdiannya di bidang pendidikan pada usia 80 tahun. Sosok yang lahir di Gorontalo ini dikenal masyarakat luas sejak ia tampil dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan di TVRI pada 1977-1979, dilanjutkan pada tahun 1985-1986.

Sosok yang juga merupakan pakar bahasa Indonesia dan guru besar Linguistika di Universitas Padjajaran ini mendapatkan gelar doktor dari Fakultas Sastra UI pada tahun 1975. Saat itu, ia membuat disertasi berjudul “Morofologi Kata Kerja Gorontalo”.  Kakek dari Ananda Badudu ini juga menulis beberapa buku seperti:  Pelik-pelik Bahasa Indonesia (1971); Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993); Kamus Peribahasa (2008); dan Membina Bahasa Indonesia Baku (1980).

Selain mengajar, menulis berbagai artikel, dan membuat buku,  setidaknya terdapat empat kamus yang disusun oleh JS Badudu. Dilansir dari kompas.com empat kamus tersebut adalah Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia terbitan 1975, Kamus Umum Bahasa Indonesia tahun 2001, dan Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia.

Atas kontribusi dan pengabdiannya di bidang bahasa, ia mendapatkan tiga tanda kehormatan dari pemerintah, yakni Satyalencana Karya Satya (1987), Bintang Mahaputera Nararya (2001), dan Anugerah Sewaka Winayaroha (2007). Walaupun kini JS Badudu telah tiada, namun pengabdiannya terhadap bahasa dan linguistik akan tetap kekal dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat.


Disarikan dari berbagai sumber berita.