Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: 2015
Halaman: xii + 218 halaman
ISBN: 9789799109507

Indonesia bukan hanya Jakarta. Begitulah yang tertangkap saat menutup akhir buku ini. Ya, bagaimanapun buku ini bagaikan angin segar di antara hilir mudik buku yang berlatar belakang Jakarta atau Jawa.

Berkisah mengenai kematian, membuat buku ini memiliki varian sudut pandang. Bagaimana tidak, orang hidup dan arwah menjadi tokoh dalam buku ini!

Berawal dari sebuah pertanyaan “Kenapa surga diciptakan?” kisah kematian ini pun mengalir.

Kematian Rante Ralla seorang bangsawan dan pemimpin Tongkonan membuat anaknya –Allu Ralla- berkutat dalam masalah. Salah satunya ketiadaan dana yang cukup untuk membuat Rambo solo-upacara kematian- untuk ayahnya. Sebagai seorang bangsawan, Rante Ralla dalam rambo solo diharuskan mengorbankan ratusan babi dan puluhan kerbau. Semua itu agar, ayahnya dapat segera ke puya –surga-. Namun, bagi Allu yang mengenyam pendidikan tinggi, upacara itu hanya demi gengsi keluarga yang masih hidup. Sehingga Allu memutuskan menguburkan ayahnya di Makasar. Telak, keputusan ini ditentang oleh keluarga besar ayahnya.

Tidak hanya permasalah kematian ayahnya. Namun, juga ada permasalah lain. Tanah warisan yang ditempati oleh Allu dan keluarga ingin dimiliki oleh perusahaan tambang. Tentu sebenarnya ini adalah tawaran yang menggiurkan. Uang penjualan tanah tentu bisa memenuhi kebutuhan upacara rambo solo ayahnya. Namun sebagaimana ayah begitu pula anaknya, Rante Ralla yang mati memperjuangkan tanahnya juga diteruskan oleh Allu.

Akan tetapi cinta mengubah segalanya. Malena, gadis pujaan hatinya yang kembali dari tanah Jawa mengikat Allu untuk kedua kalinya. Malena bersedia menjadi pendampingnya dengan menikah bukan dengan pacaran. Ah, cinta memang buta bukan? Maka Allu pun menukarkan idealismenya demi cintanya kepada anak kepala desa ini.

Pertama, untuk memenuhi kebutuhan upacara rambo solo, Allu mencuri mayat bayi di Passilirang –yakni tempat bayi yang belum tumbuh gigi di kuburkan. Hal ini membuat adiknya, Maria Ralla yang dikuburkan di sana kehilangan sang kekasih dan tempat tinggal. Ah, andaikan kau tahu Allu, ada kisah cinta antara adikmu dengan mayat yang kau ambil itu.

Kedua, tanpa sepengetahuan Tina Ralla, ibunya, Allu telah menandatangi jual beli tanah warisan leluhur. Inilah yang kemudian hari menjadi permasalahan yang memicu perdebatan para leluhur di Puya. Selain itu juga membuat hati Rante Ralla gelisah selama perjalanan ke Puya.

Jelas, ketika tahu tanah telah dijual, Tina Ralla sangat marah kepada anaknya. Terbongkarlah pada sela amarah Tina, bahwa Rante Ralla meninggal karena diracun oleh Pak Kades yang dekat dengan orang-orang tambang.

Dendam harus dibalas bukan? Ah, tidak jika Rante Ralla masih hidup. Tapi Rante Ralla telah tiada dan Marthen adiknya tidak terima dengan pembunuhan kakaknya. Ini mengenai harga diri. Maka direncanakan balas dendam kepada orang-orang tambang dan pak kades.

Lalu, bagaimana cinta Allu dan Malena? Kandas. Malena adalah senjata Pak Kades dan orang-orang tambang untuk mendapatkan tanah warisan itu. Maka bagi Allu ini adalah pembalasan dendam atas cinta dan kematian ayahnya.

Namun, bagaimana dengan para leluhur? Apakah mereka menyenangi permusuhan antar anak cucu mereka? dan kenapa surga diciptakan?

Bagi saya, Faisal tidak hanya menyuguhkan teknik penulisan yang berbeda. Dengan cara memberi tanda bintang dan tanda kurung sebagai pergantian sudut pandang. Namun, Faisal juga menghadirkan sikap kritis terhadap praktik kapitalisme. Tidak hanya mengenai perusahaan tambang yang dengan mudahnya membangun perusahaan di daerah, namun juga ke pemerintah setempat. Bagaimana dikisahkan Allu memarahi orang pemerintah provinsi karena telah mempublikasi acara rambo solo ayahnya. Masalahnya, publikasi itu bertujuan agar mendatangkan para wisatawan, bukan sebagai penghormatan.

Namun, Allu pun tidak kemudian diciptakan sebagai tokoh yang bersih dari kapitalisme. Sebagai seorang aktivis, ia pun sempat menerima dana untuk melakukan aksi penolakan tambang di Kampung Kete’-kampungnya sendiri.

Sangat disayangkan memang ketika masih ditemukan beragam kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca. Terutama mengingat buku ini diterbitkan oleh penerbitan yang besar.

Bagi saya, sampul Puya ke Puya –Surga ke Surga- ini menarik. Tangga yang menjuntai dan beberapa orang yang sedang memanjat. Mewakili cara penguburan khas Toraja, semakin tinggi derajat sosial seseorang maka semakin tinggi tempat penguburannya. Hal ini dipercaya agar bangsawan tersebut semakin cepat ke Puya.

Cara penulisan Faisal pun beragam tidak melulu puitis, kadang tegas dan lugas.

Terimakasih Faisal yang telah memperkenalkan Toraja kepada pembaca. Ah, apakah saat menuliskan ini, kau sudah meminta ijin dari Allu Ralla? Ataukah kau sengaja, membuat Allu Ralla tidak diketahui nasibnya masih hidup atau sudah di puya, agar tidak terkuak rahasiamu? Hati-hati Faisal, nanti kamu dapat amarah dari para leluhur Ralla.

Akhir kata, tidak sabar menunggu novelmu berikutnya.

Dan jika kalian ingin mengetahui bagaimana kematian dikisahkan silakan bacasaja Puya ke Puya.