Judul : Temanku, Teroris?
Penulis : Noor Huda Ismail
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : I, Juli 2010
Tebal : 388 halaman
ISBN : 9786028767309

Tentu sudah banyak pembaca yang telah meresensi buku ini. Mulai dari gaya bertutur, cara pandang, hingga hal-hal teknis penulisan. Namun mengapa saya menyuguhkan kembali buku ini? Karena buku ini memang layak untuk dibaca, bahkan tidak hanya sekali.

Sayangnya, banyak orang yang kemudian menghakimi buku ini hanya karena judulnya terdapat tulisan terorisme. Kemudian tanpa membaca, mereka mengira bahwa buku ini mengajak untuk menjadi teroris. Justru yang saya peroleh sebaliknya. Buku ini mencoba meluruskan mengenai terorisme dan jihad dengan cara yang sederhana, yakni bercerita.

“Untuk mendudukkan akar permasalahan terorisme dan jihad pada tempatnya. Aku tidak ingin almamaterku dicap sebagai produsen teroris.” – halaman 342.

Islam, terorisme, jihad.

Tiga kata yang seolah-olah tidak terpisahkan jika kita membicarakan mengenai jaringan pengeboman di dunia termasuk Indonesia. Inilah yang ingin dituliskan oleh Huda. Terlebih Huda memiliki pengalaman pribadi hidup bersama Fadlullah Hasan alias Mubarok tersangka teroris.

Ngruki merupakan nama kecamatan di Solo yang kemudian menjadi nama lain Pondok Pesantren Al Mukmin. Pondok asuhan K.H Abu Bakar Ba’asyir ini menjadi perhatian publik ketika beberapa alumninya menjadi tersangka pengeboman.

Huda mengawali kisah dalam buku ini dengan kesaksian Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan. Seorang anak dari Kulon Progo yang memiliki cita-cita sebagai imam di masjid dekat rumahnya. Cita-cita ini mengantarkan Utomo Pamungkas menempuh pendidikan di Ngruki, kemudian berlanjut hingga ke Afghanistan. Di Ngruki inilah nama Utomo Pamungkas menjadi Fadlullah Hasan.

Sebagai wartawan, Huda mendapatkan tugas untuk meliput peristiwa Bom Bali tahun 2002. Betapa terkejutnya Huda, mengetahui press release polisi bahwa diantara pelaku terdapat wajah yang ia kenal sebagai Fadhlullah Hasan. Kakaknya dari Ngruki.

Seperti Utomo, Huda juga seorang santri Ngruki beberapa tingkat di bawahnya. Kesamaan inilah yang membawa Huda menuliskan buku ini. Kisah 2 santri Ngruki yang memilih jalan berbeda. Memaknai jihad dengan cara tak sama.

Huda menggiring pembaca untuk melihat bukan dengan cara pandang benar atau salah. Melainkan mengantarkan pembaca dengan mempertanyakan siapa korban? Korban siapa?

Alif dan adiknya, menjadi yatim setelah ayahnya meninggal dalam peristiwa bom Bali I. Zahra dan Annisa, anak Fadhullah Hasan, ayah mereka harus dipenjara dan mereka menjadi yatim secara sosial. Usia mereka tidak jauh beda, kitab mereka sama, agama mereka sama -Islam-. Di sinilah Huda mengajak pembaca untuk merenungi kembali. Benarkah bom bunuh diri merupakan cara jihad? Dan benarkah temannya sebagai tersangka terorisme hanya karena nomor rekeningnya digunakan untuk dana masuk dan keluar?

Dan apa yang bisa kita lakukan untuk anak-anak yang yatim secara harfiah maupun sosial. Bukankah mereka tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang ayahnya. Bagaimanapun anak-anak itu tidak menanggung dosa orangtuanya.

Meski membahas mengenai terorisme, buku ini tidak melepaskan gaya bertutur Huda. Jenaka sekaligus kritis. Sehingga pertanyaan-pertanyaan Huda dibiarkan menggantung dan menyerahkan pada setiap pembaca.

Buku ini mengisahkan kisah nyata yang jarang dibahas. Huda berhasil membungkus cerita yang asing menjadi laik baca dan harus di baca.

Oleh karenanya, bacasaja Temanku, Teroris? Saat Dua Santri Menempuh Jalan Berbeda!