Judul: Dawuk: Kisah Kelabu Dari Rambuk Randu
Penulis: Mahfud Ikhwan
Halaman: vi + 182
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Juni, 2017
ISBN: 978-979-1260-69-5

Warung kopi memang kerap menjadi panggung pencerita. Meski kita terkadang tak tau, si pencerita bercerita fakta atau hanya bualan saja. Bahkan di era banjir informasi seperti saat ini, tak hanya di warung kopi, manusia-manusia dengan jarinya mudah bercerita yang kita juga tak pernah tau fakta atau bualan semata. Atau kita yang tak mau tau dan tak mau cari tau.

Seperti kisah yang diangkat oleh Mahfud Ikhwan dalam bukunya kali ini. Warto Kemplung seorang pencerita di warung kopi mengisahkan kehidupan pasangan suami istri bernama Dawuk dan Inayatun. Pasangan yang banyak membuat orang keheranan. Pasalnya, Inayatun si perempuan dengan julukan Primadona Desa itu mau menikah dengan Mat Dawuk yang digambarkan oleh Warto Kemplung sebagai lelaki dengan wajah yang ketika tersenyum justru terkesan mengerikan.

Sebagai pencerita, saya akui Warto Kemplung tak hanya paham batin tokohnya namun juga pendengar alias pembaca. Ketika Warto Kemplung menyindir para pendengarnya yang tak mengenal lagu India yang ia selipkan dalam kisahnya. Saya tertawa karena saya pun tak mengenal lagu itu.

Kali ini Mahfud mengangkat kisah yang menurut saya jauh lebih ‘nakal’ dibandingkan Ulid atau Kambing dan Hujan. Kisah ini menceritakan perjalanan kehidupan manusia yang hidup di Rumbuk Randu dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Perjalanan kehidupan Mat Dawuk menjadi semakin menarik diikuti karena ia menggambarkan kondisi masyarakat saat ini. Menjadi korban dari informasi yang tak pernah diketahui kebenarannya. Ketika kita dengan mudah percaya dengan kabar yang belum tentu faktanya. Atau bahkan kita hanya percaya dengan kisah yang kita yakini kebenarannya tanpa mau mendengar kisah dari sudut yang berbeda.

Cara Mahfud dalam menutup cerita sangat menarik bagi saya. Ia menghilangkan tokoh Warto Kemplung kemudian memunculkan Mat Dawuk. Hal itu tentu menggugah keyakinan dari tokoh ‘aku’ yang saya rasa mewakili pembaca juga. Siapa yang benar? Benarkah yang muncul adalah Mat Dawuk yang secara paras tergolong tampan. Tentu berbeda dengan penuturan Warto Kemplung.

Kebimbangan tokoh ‘aku’ juga menjadi kebimbangan kita semua, karena selama berkisah toh Warto Kemplung tak pernah memberikan foto Mat Dawuk. Toh Warto Kemplung pun terkenal sebagai pembual. Jadi di mana kebenaran sebenarnya?
Ah, tapi yang selalu saya suka dari setiap tulisan Mahfud Ikhwan selain memunculkan kisah yang berlatar kehidupan keseharian juga analogi yang ia gunakan. Seperti dalam buku ini, Mahfud mengartikan kebagiaan seperti secangkir kopi, cepat atau lambat akan habis. Seberapa lambat kita menikmati kopi, ia akan tetap habis juga.

Salah satu yang membuat saya tertarik dengan buku ini juga karena kovernya yang menurut saya membuat penasaran. Kita akan menduga gambar itu sebagai kalajengking dan ular, ah tapi itu hanya dugaan, kita tak melihat seutuhnya bukan?

Akhirnya buku ini saya rekomendasikan bagi kalian yang suntuk dengan skripsinya, rehatlah sejenak kawan. Belajarlah makna perjuangan dan keihklasan dari Mat Dawuk yang dikisahkan oleh Warto Kemplung. Serta untuk kalian yang merindu kisah-kisah keseharian yang sarat dengan lagu India dan sedikit romantisme ala pasangan ganjil, bacalah buku ini.

Serius, bacasaja Dawuk jika kau penat dengan segala hiruk pikuk ini teman.