Judul: Friend ZONE
Penulis: Vanesa Marcella
Penerbit: Penerbit Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Terbit: Juli, 2016
Tebal: viii + 264 halaman
ISBN: 978-602-430-000-5

Abel adalah anak perempuan yang cenderung tomboi. Tak seperti Lunetta, sahabatnya, Abel terbilang cuek perihal penampilan. Sedangkan, David adalah tipikal anak remaja laki-laki yang sempurna. Parasnya yang rupawan, membuat David cukup populer di lingkungan sekolahnya.

Abel dan David sendiri telah bersahabat sejak umur lima tahun. Mereka berdua selalu bersama kapanpun dan dimanapun. Namun, siapa sangka bahwa, bagi Abel, status sahabat yang disandangnya dengan David tersebut di sisi lain justru menimbulkan kesedihan. Abel beranggapan bahwa kekurangan David di matanya adalah kenyataan bahwa David adalah sahabatnya. Yang mana itu artinya, ia tak dapat memiliki David lebih dari sekedar sebagai sahabat. Dan bagi Abel yang telah lama memendam perasaan suka kepada David, hal itu jelas menyiksa.

Sementara itu, bagi David sendiri, berada di dekat Abel selalu memang selalu melahirkan rasa nyaman tersendiri. Rasa nyaman yang tak pernah ia rasakan saat bersama dengan teman perempuannya yang lain. Namun, berbeda dengan Abel, David tidak jatuh hati dengan sahabatnya itu. David justru menaruh hati pada teman sebangku Abel, Lunetta.

Mengetahui hal tersebut, Abel tentu saja merasa sakit hati. Terlebih saat David terang-terangan memintanya untuk mendekatkannya dengan Lunetta. Meski begitu, Abel tidak marah kepada David. Ia tak pernah menyalahkan perasaan David yang ternyata telah jatuh hati kepada Lunetta. Hal tersebut disebabkan karena ia tak ingin merusak persahabatan mereka. Baginya, lebih baik memiliki David meski hanya sebatas sahabat, daripada harus kehilangan David sebagai sahabat.

*****

Melihat alur, penokohan, serta tema cerita yang dibawakan oleh penulis, rasanya novel ini lebih cocok dibaca oleh para remaja SMP – SMA awal. Bukan berarti tidak bagus, hanya saja, saya pikir masalah yang diangkat terlalu “ringan” untuk dibaca oleh mereka yang sudah, katakanlah, berkuliah.

Lepas dari itu, saya pribadi, merasa masih terdapat banyak jumping dalam cerita ini. Misalnya, soal pemilihan nama sekolah Abel dan David, Season Sky High School, yang rasanya agak aneh untuk “ditempatkan” di latar Indonesia. Ya, saya paham, mungkin maksud penulis tersebut ingin menunjukkan bahwa para tokoh di dalamnya adalah orang kelas atas. Tapi saya pikir penamaan tersebut terlalu berlebihan. Selain itu, saya juga merasa seperti ada pemaksaan soal kemampuan Lunetta yang dapat membaca pikiran dan bagaimana sang penulis mengakhiri ceritanya. Kepulangannya dari bertemu sang ibu, pertemuannya dengan Carlos, hingga peristiwa kecelakaan, membuat cerita berjalan kurang natural.

Sementara itu, dari segi teknis, saya masih menyayangkan akan adanya kesalahan tanda baca. Pada halaman 24 baris ketujuh, misalnya, dimana tidak terdapat tanda petik buka di awal kalimat: Ohhh!!! Gue tahuuu!!!”

Untuk kovernya sendiri, bagi saya, itu adalah bagian yang paling menarik dari novel ini. Desainnya yang sederhana, tidak menggunakan banyak warna, serta tata letaknya yang enak dilihat, cukup mampu untuk menarik perhatian. [AA]

Akhirnya, tak ada salahnya untuk tetap bacasaja Friend ZONE!