Judul: Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Tebal: 219 halaman
ISBN: 978-602-03-3219-2

Di lereng Gunung Sindoro, satu tahun sebelum peristiwa Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) meletus, seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Saat itu, Desa Ringinsari tengah kuyup oleh hujan bulan Desember. Sang ibu memberinya nama Anisa Nooraini. Tetapi, orang-orang kemudian lebih mengenalnya sebagai Genduk.

Sejak kecil, Genduk tidak pernah melihat sosok bapaknya. Ia hidup dan tumbuh di bawah asuhan Yung, ibunya. Hidup di tengah keluarga miskin yang menggantungkan harapan pada hasil pertanian tembakau, ia tumbuh sebagai anak yang tegar. Dari Yung ia belajar arti bekerja keras dan menolak bergantung kepada orang lain.

Ada satu hal yang mengusik hati dan pikiran Genduk. Mengapa setiap kali bertanya tentang sosok bapaknya, Yung selalu menanggapinya dengan ketus? Adakah rahasia yang tidak boleh diketahui seorang anak tentang bapaknya sendiri? Didorong rasa penasaran dan kerinduan, diam-diam, ia bertekad akan mencari jati diri bapaknya suatu saat nanti.

Hanya Kaji Bawon satu-satunya orang yang bersedia bercerita mengenai bapak Genduk. Pakmu itu dari tanah seberang. Perawakannya tinggi gagah. Kulitnya bersih. Tidak seperti kulitan orang-orang nggunung. Tangannya halus, sehalus tutur katanya. (hal. 18) Dari cerita Kaji Bawon itulah ia sering tersenyum-senyum sendiri membayangkan sosok bapak yang sangat dirindukannya.

Maka, Genduk mulai paham mengapa banyak orang mengatakan perawakannya berbeda dari Yung. Lantaran sering memaculi ladan dan mencabut rumput liar, tangan Yung berbeda dari kebanyakan tangan perempuan. Ada jelujur otot menyembul di tangannya. Mirip seperti kacang panjang. Jangan ditanya bagaimana telapak tangannya. Kulitnya kapalan. Kalau dipegang terasa keras. (hal. 21)

Namun demikian, Genduk tetap mencintai Yung sebagaimana Yung sangat mencintainya. Baginya, Yung seperti matahari yang selalu ada untuk menghangatkan jiwanya. Yung akan melakukan segalanya demi anak semata wayangnya. Meski sayang, Yung tidak pernah peduli dengan kecerdasan dan kelihaiannya menulis puisi. Tapi ia mengerti, yang menjadi perhatian Yung kini adalah cara agar keluarganya bisa berdikari secara ekonomi.

Bagi orang-orang di Desa Ringinsari, tembakaulah solusi dari himpitan ekonomi. Ada cinta, harapan, dan perjuangan petani pada tiap lembar daun tembakau. Musim tembakau adalah musim labuh. Apa yang dimiliki petani dipertaruhkan agar penanaman tembakau hingga panen nanti berhasil. (hal. 23)

Setiap kali musim tembakau tiba, kehidupan di desa menjadi lebih hidup dari sebelumnya. Dari sepi nyenyat, perlahan mulai menggeliat. Sebelum para petani menanam tembakau, terlebih dahulu mereka mengadakan acara Among Tebal yang di antaranya berisi doa kepada Gusti Allah. Harapannya, bibit tembakau yang ditanam nanti bisa tumbuh subur dan bebas dari serangan hama. Dan terutama, supaya bisa mendatangkan panen melimpah sehingga kesejahteraan petani bisa meningkat. (hal. 47)

Menjelang musim panen, sekolah mesti libur sesaat. Sebab, anak-anak akan diminta untuk membatu orang tuanya mengurus tembakau. Tembakau sangatlah besar maknanya bagi petani. Lihatlah tanaman ini, tampak seperti tidak berdaya. Tapi, justru hidup kita bergantung sepenuhnya pada tanaman-tanaman ini. (hal. 51)

Bagi anak-anak Desa Ringinsari, musim tembakau merupakan musim bermain yang penuh keriangan. Di musim tembakau, akan ada pasar malam yang dipenuhi aneka permainan dan baju-baju bagus yang mengundang decak kekaguman. Maka, anak-anak akan menyambut musim tembakau dengan senyum mengembang. Tapi, tidak demikian yang dialami Genduk.

Bagi Genduk, musim tembakau adalah musim dimulainya kegetiran. Betapa tidak, Bocah sebelas tahun itu harus ikut prihatin memikirkan nasib Yung. Tembakau sebagai gantungan harapan petani membutuhkan banyak uang untuk modal. Dan ia tahu, satu-satunya cara yang bisa ditempuh Yung guna mendapatkan modal adalah dengan berutang kepada rentenir.

Rentenir menyebabkan orang-orang lemah seperti Yung tidak memiliki banyak pilihan. Rentenir semakin memperlebar jarak petani dengan garis kesejahteraan. Dalam ketidakberdayaan, tidak jarang petani hanya bisa pasrah dalam lilitan utang. Kita ini kan hidup mung mampir utang. Kalau sampai utang ndak kebayar di panenan tahun ini, ya tinggal dibayar di panenan tahun berikutnya. (hal. 92)

Bukan hanya jeratan rentenir saja yang mesti dihadapi petani tembakau di lereng Gunung Sindoro. Tingkat pendidikan yang rendah membuat tengkulak semakin leluasa mempermainkan harga tembakau. Ditambah lagi dengan harga tembakau yang sepenuhnya berada dalam kendali para cukong dan pemilik modal.

Tembakau tidak hanya memaksa petani memeras pikiran saat ditanam saja. Ketika hendak dipanen pun, petani harus memutar otak supaya tembakau bisa terjual dengan harga yang layak. Tidak terkecuali bagi Genduk. Dalam usahanya supaya Yung dapat menjual tembakau dengan harga yang pantas, ia harus berurusan dengan Kaduk, raja tengkulak yang selama ini dibencinya.

Demi sang ibu, Genduk rela berkorban. Ia bahkan harus menahan geram manakala Kaduk melecehkan harga dirinya sebagai perempuan. Sungai Tuksari menjadi saksi bisu bagaimana setiap hari Rabu, seorang gadis, secara terpaksa, menerima perlakuan tidak senonoh itu.

Nyatanya, Kaduk hanya mengelabuinya dengan janji-janji palsu. Alih-alih dihargai tinggi, lima belas keranjang tembakau Yung yang dibawa Kaduk ke Kota Parakan tidak jelas juntrungnya. Genduk hanya bisa menelan kekecewaan itu sendirian. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Yung. Ia menyimpan rapat-rapat peristiwa memilukan di Sungai Tuksari.

Tembakau bagi petani bisa menjadi simbol kebahagiaan. Tetapi, di sisi lain, tembakau juga bisa menjadi simbol kesedihan yang tak terperikan. Tembakau itu barang panas, Nduk. Kalau tidak hati-hati, bisa rusak persaudaraan, rusak tatanan jagat. (hal. 100)

Terbukti, gara-gara tembakau, banyak orang silau lalu memilih mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Thomas Hobbes (1588-1679) menyebut manusia sebagai homo hominy lupus, manusia adalah serigala bagi manusia yang lain. Demi keuntungan, seseorang tega mencelakai orang lain. Di Desa Ringinsari, frustrasi akibat tembakau dan ulah kekejian manusia bahkan berakhir dengan kematian yang paling hina: bunuh diri.

Beruntung, dalam pencarian bapaknya ke kota, Genduk dipertemukan dengan Tjo Tian Djan, juragan tembakau terkaya se-Kota Parakan. Ia mendapatkan hadiah istimewa berupa gelang keluarga besar Tjo Tian Djan atas jasanya telah menyelamatkan cucu Tjo Tian Djan dari kecelakaan maut.

Gelang itulah yang kemudian sanggup menjadi memangkas cerita pilu bagi petani tembakau di lereng Gunung Sindoro. Gelang itu menjadi penawar atas kabar duka yang diterima Genduk dalam pencarian kabar bapaknya. Bapaknya mati dalam kegaduhan dan kesalahpahaman antara santri dan PKI beberapa tahun silam. Lagi-lagi, Genduk harus menelan kepahitan itu sendirian.

Sundari piawai melukiskan kesahajaan desa. Proses pengolahan tembakau dari awal sampai akhir diceritakan cukup detail dalam novel ini. Sebagaimana diakuinya, novel ini dibuat selama kurang lebih empat tahun. Dimulai dengan riset dan wawancara langsung terhadap beberapa petani sepuh di Desa Mranggen Kidul, Parakan, Kabupaten Temanggung.

Pengambilan setting tahun 1970-an membuat kekhasan tersendiri dalam novel ini. Hal ini memungkinkan Sundari tidak melulu berkisah tentang pergulatan batin Genduk, si “gadis tembakau”. Kegaduhan konflik sosial politik serta perdebatan seputar agama dan kepercayaan yang sempat meruncing pada masa itu, tidak luput dari perhatian Sundari. Zaman itu, telunjuk ini lebih berbahaya daripada bedil. (hal. 152)

Sundari mengemas jalinan kisah dengan bahasa yang mengesankan. Kadang disertai humor yang akan membuat pembaca mengulum senyuman. Trikotomi priyai, santri, dan abangan juga diteropong dari sudut pandang seorang gadis desa yang cerdas.

Maka, tidak berlebihan kalau Ahmad Tohari, penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk, mengimbau bagi mereka yang merasa terurbankan untuk membaca novel ini. Alasannya jelas, agar mereka mengenal kembali nilai budaya dan kehidupan desa.

Jadi, penasaran dengan cerita lengkapnya? bacasaja Genduk!