Judul: Girls in The Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Terbit: 2015
Tebal: 289 halaman
ISBN:978-602-7742-31-4

Girls in The Dark bercerita tentang tragedi yang terjadi di sebuah kelompok sastra. Siapa sangka, kelompok yang dianggap sangat bergengsi di sekolah ini ternyata banyak menyimpan misteri. Semuanya berawal dari kematian ketua klub ini, Shiraisi Itsumi. Shiraisi Itsumi ditemukan meninggal terjatuh dari gedung sekolah dengan membawa bunga lily of the valley. Semua mengira bahwa Itsumi meninggal karena bunuh diri, namun keberadaan bunga lily itu meyakinkan masing-masing anggota klub bahwa Itsumi mati karena dibunuh.

Satu minggu setelah tragedi itu, kelompok sastra mengadakan pertemuan untuk mengenang kematian Itsumi. Enam anggota kelompok yang tersisa akan mengenang itsumi dengan cerita pendek yang mereka buat. Cerita pendek tentang siapa yang kira-kira membunuh Itsumi diantara anggota klub sastra tersebut.

Namun, siapa sangka masing-masing melontarkan tuduhan kepada satu sama lain. Dan di malam itu, tidak hanya persepsi masing-masing yang diutarakan. Masa lalu kelam dari masing-masing anggota pun terungkap. Semua anggota klub sastra memiliki rahasia yang hanya Shiraisi Itsumi ketahui, dan itulah alasan mengapa mereka bergabung dalam klub sastra itu. Semuanya memiliki dendam dan ambisi.

Lalu siapa yang sebenarnya membunuh Itsumi, dan apa pula arti dari bunga liliy of the valley yang dibawanya? Rasanya tidak pantas bila akhir cerita ini dicantumkan dalam tulisan ini. Sudah menjadi ciri bagi Akiyoshi Rikako untuk membuat akhir yang tak terduga, sebuah twist yang tidak akan pernah dipikirkan pembacanya.

Namun, ada kalanya saat mebaca satu persatu cerita yang dibacakan masing-masing anggota membuat bosan. Terlebih ketika cerita dari orang pertama memiliki pola yang sama dengan cerita orang kedua sampai orang keenam. Yah, meskipun pada bagian ini justru merupakan bagian penting yang mengungkap rahasia masing-masing anggota klub.

Secara keseluruhan, Girls in The Dark ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Bahasa tutur yang enak untuk dibaca serta cerita yang cukup menegangkan dari halaman pertama, memberi poin menarik tersendiri. Dan seperti ciri Akiyoshi Rikako, ending-nya pun sangat tak terduga, sehingga mampu membuat pembaca terdiam. Saya rasa itulah kelebihan sang penulis yang merupakan lulusan dari Universitas Waseda, salah satu universitas paling bergengsi di Jepang.

Di negara asalnya, novel Girls in The Dark ini memang sangat populer. Kabar menyenangkannya, di tahun 2017 ini film adaptasi dari novel ini akan segera diputar di bioskop. Hal ini membuktikan bahwa selain cerdas dalam menyusun alur cerita, Akiyoshi Rikako juga mampu mengetahui selera pembaca di Jepang.

Jadi, tertarik untuk membaca karya-karya dari Asia Timur? Saran saya, kalian bisa memulai dengan bacasaja Girls in The Dark!