Judul: Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis : Yoshici Shimada
Penerbit: Pustaka Inspira
Terbit: Juli 2013
Tebal: 255 halaman
ISBN: 9786029706628

“Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan,” – halaman 226.

Membaca buku ini menjadikan kita merenungi kehidupan kita saat ini. Ketika kita sibuk bekerja dan sekolah dari pagi hingga sore, kerap menjadikan kita lupa untuk bahagia. Namun, bagi mereka yang tidak mendapatkan sekolah atau mengalami PHK pun tidak lantas berbagia.

Benarkah kita yang mengendalikan waktu atau waktu yang mengukung kita? Benarkah tanpa uang kita tidak bertahan hidup? Benarkah jika nilai matematika dan ipa kita tidak sempurna lantas kita adalah anak bodoh?

Berapa banyak orangtua ataupun anak-anak yang berlomba mengunggah foto hasil pekerjaan mereka, surat keterangan kepegawaian, hingga nilai ujian. Sekarang setelah menerima hasil ujian, orangtua dan wali murid berlomba mengunggah raport anaknya di laman sosial media mereka. Saling membanggakan diri mendapat nilai terbaik di bidang mata pelajaran tertentu.

Seolah-olah mereka lupa bahwa hidup merupakan gabungan dari berbagai kekuatan. Ada bakat, ketrampilan, dan kesempatan yang kadang kita abaikan.

Hidup itu gabungan dari berbagai kekuatan” -halaman 165.

Begitulah pesan nenek dari Akihiro. Ketika itu, Akihiro lebih banyak mendapatkan nilai 1 dan 2 dibandingkan angka 5.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Akihiro selama tinggal bersama neneknya di Saga. Keadaan ekonomi di Hiroshima setelah ledakan bom, membuat ibu Akihiro memutuskan mengirim Akihiro untuk tinggal bersama neneknya. Mengejutkan bagi Akihiro, karena sebelumnya ia tidak pernah berjumpa dengan neneknya. Jikapun sudah, tentu jauh sebelum ia bisa mengingat wajah neneknya.

Bersama bibinya, Akihiro menuju rumah neneknya di Saga. Ketika melihat suatu gubuk, ia berharap bahwa itu bukan rumah neneknya. Namun, siapa sangka gubuk itu adalah rumah neneknya. Tidak hanya terkejut dengan kondisi rumah neneknya, ia juga terkejut dengan kondisi neneknya.

Kemiskinan neneknya tidak menjadi penghalang kebahagian mereka. Bagaimanapun neneknya memiliki swalayan sendiri tanpa membayar. Ya gratis, bahkan telah diantarkan hingga pekarangan rumah. Tidak hanya makanan, swalayan itu mengirimkan berbagai barang yang mereka butuhkan juga.

Akihiro adalah seorang atlet di sekolahnya. Setiap festival olahraga ia selalu menjadi juara lari. Bahkan di SMP ia menjadi kapten baseball. Meski pandai di bidang olahraga, Akihiro mendapat nilai 1 dan 2 di bidang lainnya seperti bahasa dan IPA. Namun, neneknya dengan jenaka mengatakan, “Satu dan dua kalau ditambahkan kan jadi lima.” Begitulah neneknya yang selalu bisa menertawai keadaan sesulit apapun.

Festival olahraga di sekolah Akihiro lah, yang menunjukkan kebaikan orang-orang-terutama guru wali kel. Sungguh beruntung Akihiro, tidak hanya di sekolah namun lingkungan sekitarnya juga memberikan banyak kebaikan. Lebih beruntung lagi karena Akihiro dapat merasakan dan mempelajari kebaikan-kebaikan itu.

Awalnya saya khawatir dengan Akihiro, bagaimanapun zaman neneknya pasti berbeda dengan zaman kehidupan Akihiro. Siapa sangka nenek adalah wanita yang memiliki kebijaksanaan yang mampu mengantarkan Akihiro hingga kesuksesannya. Tidak heran, jika ia tidak marah ketika tahu Akihiro banyak mendapatkan nilai 1 dan 2 bahkan pernah merusakkan papan tulis di sekolah.

Cerita ini dituliskan secara runtut, penerjemah juga dapat membahasakan ulang dengan baik. Alhasil, pembaca dapat menikmati ceritanya. Bagaimanapun kondisi seorang nenek, dia akan membantu anak-anaknya. Bahkan jika itu harus mengurus cucunya.

Sungguh, jika kalian sudah lupa cara bahagia. Atau kalian lupa bagaimana cara tertawa, maka bacasaja buku Saga no Gabai Bachan.

  • dhimze

    memaaaangsss