Judul : Kambing dan Hujan
Penulis : Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit : Maret 2016, cetakan kedua
Tebal : vi + 374 halaman
ISBN : 9786022910275

“Kisah sepasang kekasih melawan kemustahilan; terpilin dalam rajutan sejarah, hubungan sosial dan persaingan paham agama.” –Darmanto Simaepa, kandidat Ph.D. Antropologi Universitas Leiden.

Berlatar kehidupan Desa Centong yang masyarakatnya tergabung dalam Nahdlatul Ulama dan sebagian yang lain Muhammadiyah. Penetapan 1 Syawal yang kadang berbeda, jumlah rakaat sholat tarawih, pelafalan niat puasa, hingga dzikir yang dikeraskan atau cukup dalam hati. Perbedaan yang masih menjadi perdebatan setiap menjelang puasa atau hari raya.

Pernahkah terbayangkan jika perbedaan itu masih dalam satu desa? Masjid yang hanya selemparan batu saja jaraknya dengan dua pemahaman yang berbeda. Nyatanya telah membelah pendapat masyarakatnya? Dan bagaimana jika justru cinta tumbuh diantara semua perbedaan itu? Itu adalah yang dialami oleh Miftah dan Fauzia.

Miftah adalah anak dari Iskandar seorang pelopor gerakan pembaharuan di Desa Centong. Iskandar muda juga yang turut membangun masjid di bagian utara itu. Ia juga terlibat pembangunan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah meski dengan jumlah murid yang lebih sedikit dibanding madrasah di selatan. Tentu atas semua hal yang dilakukan Iskandar, seorang bocah angon yang hanya tamat SR, Iskandar menjadi seorang pemuka agama Masjid Utara.

Fauzan bapak dari Fauzia, seorang yang sempat mengenyam pendidikan pondok pesantren. Gerakan pembaharuan yang diawali oleh Iskandar dan teman-temannya, membuat angkatan tua memutuskan menjemputnya lebih awal dari pondok. Fauzan kemudian menjadi angkatan muda yang mengaktifkan kembali kegiatan Masjid Selatan, ia juga yang turut mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama.

Pertemuan yang tidak sengaja antara Miftah dan Fauzia ternyata menumbuhkan kisah asmara diantara keduanya. Kenyataannya, perkiraan dua anak muda mengenai latar belakang bapak mereka ternyata salah. Bapak mereka tidak saling bermusuhan, bahkan mereka adalah sahabat karib. Hingga seiring berjalannya waktu semua berubah.

Cerita cinta Miftah dan Fauzia justru mengungkapkan sejarah yang telah lama tertutup. Miftah dan Fauzia menjadi perekat antara Centong Utara dan Centong Selatan. Meski melaluinya penuh dengan rintangan. Perbedaan organisasi seolah-olah menjadikan semuanya mustahil.

Mahfud menyajikan sebuah cerita yang unik. Tidak heran jika kemudian novel ini memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014. Kisah Miftah dan Fauzia mengalir begitu saja dengan beberapa bagian Mahfud menyajikan fakta mengenai kedua organisasi besar yang sangat berpengaruh dalam keagamaan umat Islam di Indonesia.

Pemilihan judul Kambing dan Hujan membuat saya bertanya-tanya, apa maknanya. Namun, setelah membaca sejarah Iskandar dan Fauzan, pemilihan perumpamaan Kambing dan Hujan menjadi pilihan pas menurut saya.

Hanya saja, perubahan penokohan yang cepat ketika Iskandar dan Fauzan bercerita sempat membingungkan pembaca. Apakah kisah ini kisah Iskandar? Oh ternyata ini kisah Fauzan. Terlepas dari itu, novel ini sangat menarik, karena saya sendiri menjadi berpikir, jika kisah dalam satu agama saja serumit kisah Miftah dan Fauzia, bagaimana jika agama berbeda?

Jika kalian ingin membaca hubungan masyarakat dan benturan paham agama silakan bacasaja Kambing dan Hujan.