Judul: When The Star Falls
Penulis: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Terbit: Oktober 2015
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-7742-58-1

Bintang itu, adalah orang yang mati meninggalkan seseorang yang ia cintai di bumi.
Bintang terjatuh karena ia mengejar orang yang dicintainya, yang sudah menyusul dirinya

Penggalan kalimat yang terdapat pada cover belakang buku tersebut cukup menggugah saya untuk membaca buku ini. Kalimat tersebut jelas menunjukkan adanya unsur cinta dan kematian dalam buku ini. Dari dua unsur tersebut, maka kisah seperti apa yang ditawarkan buku ini?

Buku ini bercerita tentang Sam yang harus menerima kenyataan bahwa Lynn, kekasihnya, menderita tumor otak. Penyakit tersebut mengakibatkan Lynn hilang ingatan sebagian. Semua tentang Sam menjadi salah satu hal yang terlupakan oleh Lynn.

Cerita tentang seseorang yang hilang ingatan memang menjadi latar cerita yang jitu untuk menarik simpati pembaca. Walau begitu, awalnya saya khawatir cerita akan berjalan monoton, yaitu seputar drama antara Sam, Lynn dan ingatannya yang hilang. Tapi ternyata, penulis mampu memberikan cerita yang lebih dari itu.

Permasalahan yang dialami Sam tidak berhenti pada ingatan Lynn yang lupa terhadap dirinya. Ternyata ada permasalahan lain bahkan beragam konflik muncul, baik dari keluarga maupun teman-temannya. Salah satunya adalah adanya cinta segitiga antara Sam, Lynn, dan Billy –teman Sam dan Lynn semasa SD.

Lalu, apakah Billy akan menghancurkan hubungan Sam dengan Lynn? Di titik itu, buku ini pun semakin seru dibaca. Bahkan menjelang akhir cerita terdapat twist yang menjadi titik klimaks buku ini. Akhir cerita pun menjadi tak terduga. Pembaca yang suka menebak akhir cerita mungkin tebakkannya akan meleset gara-gara twist tersebut.

Dari segi penokohan sendiri, penulis berhasil menampilkan tokoh Sam yang tidak mudah terlupakan setelah kita membaca buku ini. Sifatnya yang terlalu minder dan mudah terprovokasi orang lain sukses membuat saya geregetan. Padahal sudah jelas Lynn tetap menyukai Sam walaupun ia lupa terhadap kenangan akan Sam.

“Tidakkah kau pikir Leon benar adanya? Aku sudah bertindak egois karena meminta Lynn untuk mengingatku padahal dia tidak mau.” halaman 83.

Walaupun demikian, buku ini juga tidak luput dari kekurangan. Gaya penulisan sang penulis dalam buku ini, menurut saya, justru menjadi titik kekurangan itu sendiri. Penulis menggunakan gaya menulis seolah-olah Sam yang sedang menulis cerita ini untuk Lynn. Hasilnya, terlalu banyak kata yang berakhiran “ku” dan “mu”. Hal itu terkadang membuat saya merasa rancu dalam memahami jalannya cerita.

Pada akhirnya, buku ini cocok untuk kaum muda, khususnya mereka yang memiliki sifat minder, suka menyalahi diri sendiri, mudah terprovokasi, dan kurang percaya diri. Sebab, buku ini menunjukkan bahwa sifat minder akan merugikan diri sendiri dan membuat orang lain tidak senang. Singkat kata, harapannya, dengan membaca buku ini, rasa percaya diri mereka pun akan bangkit dan pikiran mereka dapat lebih terbuka.

Penasaran dengan jalan ceritanya? Maka, bacasaja When The Star Falls!