Judul: Marriage Most Scandalous
Penulis: Johanna Lindsey
Penerjemah: Isma Badrawati
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2009
Tebal: vi + 452 halaman
ISBN: 979-780-312-0

“Kau bahkan tak keberatan Juliette menguasai Edgewood? Aneh sekali, ya, mengingat dialah yang membuatmu harus berduel, lalu membuatmu berkemas-kemas dan pergi dari rumah ayahmu sendiri.” – halaman 69.

Mengetahui sahabat karibnya –Sebastian Townshend– bercinta dengan sang istri, Giles langsung menantang Sebastian untuk berduel. Menyedihkannya, akibat perduelan tersebut Sebastian tak hanya kehilangan sahabat, melainkan juga keluarga –sang ayah dan neneknya. Sang ayah mengusirnya dari rumah, dan ia pun bersumpah kepada dirinya untuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di tanah Inggris.

Bertahun-tahun terhitung semenjak ia meninggalkan rumahnya, tak disangka Sebastian justru terkenal dengan nama the Raven. The Raven sendiri merupakan perwujudan dari jati dirinya yang baru. Jati diri yang mana terbentuk tanpa ia kehendaki.

Konflik-konflik dalam novel ini sendiri mulai memanas saat sebuah peristiwa yang tak disangka membuatnya bertemu dengan Lady Margaret Landor, tetangga di masa kecilnya dulu. Maggie –sapaan akrab Margaret– pun terkejut ketika mendapati bahwa the Raven adalah Sebastian. Sebab, tujuannya untuk mencari the Raven tak lain dan tak bukan adalah untuk menemukan Sebastian, agar ia dapat memecahkan misteri kecelakaan beruntun yang dialami oleh ayah Sebastian.

Demi menjunjung tinggi sumpahnya, pada awalnya Sebastian tak mau untuk memecahkan misteri tersebut. Namun, atas kegigihan Maggie –alih-alih kekeraskepalaan– Maggie pun berhasil meyakinkan Sebastian untuk membereskan masalah tersebut.

Akan tetapi, tentu tak seru jika masalah selesai di titik itu. Dibalik keberhasilannya membujuk Sebastian, Maggie masih harus dipusingkan dengan bagaimana cara agar kembalinya laki-laki itu ke Inggris tampak wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan. Akhirnya, sebuah keputusan pun diambil.

Sang Lady mengusulkan supaya mereka berpura-pura sudah resmi menjadi suami istri. ‘Ironisnya’, Maggie lupa dengan fakta kecil bahwa laki-laki itu sempat menarik perhatiannya semasa remaja dulu. Dan, meski ia malu mengakuinya, jauh di dasar lubuk hati Maggie sepenuhnya sadar bahwa lelaki itu tetap, bahkan, jauh lebih memesona.

Selain Sebastian –yang rupawan dan berperawakan tinggi, namun keras hati– dan Margaret –yang cantik dan cerdas, namun keras kepala– tokoh lain yang berperan cukup banyak dalam novel ini adalah John Ricard, Timoty Charles, Juliette, dan ayah Sebastian sendiri. Mereka semua ditulis dengan karakter yang cukup kuat.

Secara keseluruhan, novel ini terbilang menarik. Membaca novel ini, mungkin, akan membuat beberapa pembaca merasa terbodohi dan terbohongi. Sebab, menyimpan twist yang besar dan tidak dapat tertebak sama sekali. Cerita di dalamnya pun banyak menyimpan intrik-intrik dan skandal. Bagusnya, intrik-intrik di dalamnya tidak terkesan memuakkan, melainkan justru membuat penasaran.

Soal alur, novel ini ditulis dengan plot yang rapi, sehingga pembaca dapat dengan mudah mengikuti jalan ceritanya. Untuk latar sendiri, tidak ada kesan ‘tempelan’ yang muncul. Latar tempat yang digunakan oleh penulis sendiri adalah Austria, Perancis, dan Inggris –sebagian besar. Sedangkan, untuk latar waktu penulis di sini menggunakan setting tahun 1800-an.

Untuk segi teknis sendiri, pertama, cukup disayangkan atas masih terdapatnya beberapa kesalahan penulisan. Kedua, soal desain gambar bibir yang digunakan pada kover, alih-alih berusaha untuk memunculkan kesan sensual, justru terasa menggelikan.

Poin plus justru muncul dari segi tata letak kover yang tidak neko-neko –sederhana dan cukup rapi. Begitu pula dengan warna yang digunakan untuk latar belakang sampul, krem dan merah muda, yang terbilang cukup merepresentasikan ‘gairah-gairah’ yang ada dalam cerita.

Jadi, bacasaja Marriage Most Scandalous!