Judul: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kedua, Februari 2013
Tebal: 280 halaman
ISBN: 978-979-22-8009-8

“Mereka yang sesat tidak boleh lagi berada di kampung ini.”
“Siapa yang sesat?”
“Siapa saja yang mengingkari agamanya.”
“Bagaimana kalian semua tahu kami mengingkari agama kami?”
“Siapa yang tidak tahu kalian orang Ahmadiyah?”
“Itu bukan berarti kami ingkar…”
“Sudahlah … tak ada gunanya meributkan hal yang sudah jelas. Masih banyak kesempatan untuk bertobat.”
“Pak Haji, siapa yang perlu bertobat? Saya dan keluarga saya atau orang-orang yang sudah mengusir kami dari rumah kami sendiri?”
– halaman 208.

Dikisahkan, Maryam adalah seorang perempuan yang cerdas dan ramah. Secara fisik, ia digambarkan memiliki mata bulat dan tajam, beralis tebal, berambut lurus dan hitam, serta berkulit sawo matang –kecantikan khas yang dimiliki perempuan dari daerah timur.

Cerita dalam novel ini dimulai dengan narasi di mana Maryam telah bercerai dengan Alam –sang mantan suami yang bekerja sebagai karyawan perusahaan konstruksi– dan kemudian ingin kembali ke rumah orangtuanya. Namun, sekembalinya ia ke tanah kelahirannya di Desa Gerupuk, Lombok, ia mendapati bahwa orangtuanya tak lagi tinggal di sana.

Kepada beberapa warga setempat, ia menanyakan keberadaan orangtuanya. Namun, semua yang ditanya hanya diam dan pura-pura tak mengenal. Mereka enggan mengatakan apa yang telah terjadi pada keluarganya. Baru setelah dirinya bertemu dengan Jamil –dan disertai sedikit memaksanya untuk bercerita tentang apa yang sudah terjadi– ia tahu bahwa ternyata orangtuanya terusir dari rumahnya sendiri. Mereka, orangtuanya, terusir hanya karena sebuah keyakinan yang oleh banyak orang dianggap sesat –dalam novel ini yang dimaksud adalah Ahmadiyah.

Namun, novel ini tidak membahas tentang kesesatan ajaran atau keyakinan yang dianut oleh keluarga Maryam tersebut. Melainkan, lebih membahas perihal sisi kemanusiaan dari kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Oleh karenanya, dalam novelnya, Okky tidak memberikan penjelasan mengenai apa itu Ahmadiyah, bagaimana ajarannya, dan sebagainya.

Dalam bercerita, Okky memang menuliskan kisah ini dengan diksi yang mudah dipahami dan sangat mengalir. Namun sayangnya, novel ini cenderung penuh dengan narasi dan minim dialog. Hal itu membuat pembaca (setidaknya saya) kemudian merasa “jauh” dengan sang tokoh dan kurang bisa merasakan emosi yang coba dibangun oleh sang penulis. Tak hanya itu, meski memang akhir cerita tidak bisa tertebak secara langsung, namun jalan cerita cenderung agak datar. Tidak ada “kejutan” besar yang membuat pembaca jadi tidak bisa berkata-kata.

Lebih lanjut, secara teknis, kover novel ini memiliki tone yang cukup menarik. Hanya saja saya merasa ada yang sedikit aneh pada desain gambarnya. Di situ digambarkan seorang perempuan sedang menggenggam sebuah rumah, dengan tiga telapak tangan –entah apa tepatnya, tapi saya melihatnya sebagai tiga telapak tangan.

Tapi, di atas semua itu, ada satu hal yang patut diapreasiasi. Tanpa memberikan penilaian mana yang benar dan mana yang salah, Okky menggugah kesadaran hati manusia untuk menyuarakan keadilan. Dalam konteks novel ini, keadilan yang dimaksud bukan pada ajarannya melainkan pada derita penindasan dan hak-hak dasar yang terebut. Sebab, selama ini –oleh media terutama– sebuah kaum yang dianggap “sesat” sering kali tak mampu bersuara karena dianggap bahwa keadilan bukan hak mereka –yang ada justru mereka harus diadili.

Penasaran dengan jalan ceritanya? Maka, bacasaja Maryam!