Judul: Norwegian Wood
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jay Rubin
Penerbit: Vintage Books
Terbit: September 2000
Tebal: 296 halaman
ISBN: 0375704027

Pernahkah kita memberi kesempatan terhadap diri kita sendiri untuk menghadap cermin dan bertanya kenapa? Atau pernahkah kita memberi kesempatan kepada mulut dan hati kita untuk “berdialog” dengan diri sendiri? Sehari saja, be honest with yourself–brutally honest. Pernahkah?

Adalah Toru Watanabe, seorang mahasiswa muda yang memiliki dua orang sahabat karib sejak SMA: Kizuki dan Naoko. Ketiganya bertolak belakang, dan, boleh dibilang, memiliki hubungan persahabatan yang aneh. Toru, sang tokoh utama, adalah seorang lelaki pendiam dan pemikir, namun tidak pernah terlalu kaku untuk mencoba menerima dan memahami orang lain melalui sudut pandangnya sendiri. Sementara Naoko, kekasih Kizuki, adalah gadis yang rapuh dan sensitif terhadap hal-hal baru. Di sisi lain, Kizuki sendiri digambarkan sebagai sosok yang periang dan mampu menjadi “jembatan persahabatan” yang terjalin di antara ketiganya.

Kematian Kizuki yang begitu mendadak sempat memutus rantai persahabatan antara Toru dan Naoko. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Kizuki meninggal karena bunuh diri, bahkan tidak meninggalkan alasan sama sekali, mereka berdua kemudian berpisah sambil membawa bekas luka dan serangkaian pertanyaan yang timbul atas kepergian Kizuki.

Toru dan Naoko kemudian bertemu kembali di Tokyo, setelah keduanya sama-sama menjadi mahasiswa. Melalui pertemuan-pertemuan itu, mereka berdua baru menyadari bahwa selama ini mereka tidak pernah “benar-benar berbicara”, dan, di sisi lain, Toru mulai membutuhkan Naoko untuk mengisi lubang dalam dirinya yang tercipta setelah kematian Kizuki. Sedangkan Naoko sendiri masih menghadapi kemelut dalam dirinya untuk memaafkan Kizuki atas kepergiannya yang mendadak, juga berusaha memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menghadapi dunia luar tanpa Kizuki. Ketakutan-ketakutan yang dialami Naoko ini lah yang semakin memperumit hubungan mereka, membuat Toru harus bolak-balik mengambil langkah maju dan mundur agar bisa memahami Naoko seutuhnya. Puncak ketidakjelasan hubungan mereka terjadi pada ulang tahun Naoko yang kedua puluh, di mana perayaan kecil-kecilan tersebut berakhir dengan keduanya tidur bersama.

Setelah kejadian tersebut, Naoko kemudian pergi dan meninggalkan sepucuk surat yang isinya menjelaskan bahwa untuk sementara ia sedang tidak bisa ditemui. Toru bingung lantaran merasa bersalah tetapi juga merasa tidak ada yang benar-benar perlu dipersalahkan. Kizuki sudah pergi, Naoko sendiri, ia membutuhkan teman hidup yang sama eratnya seperti saat dulu ia bersama Kizuki, dan hanya Toru yang selalu setia menemani. Toru yang mulai kacau akhirnya melampiaskan segalanya dengan meniduri banyak perempuan. Namun setiap kali selesai berhubungan intim, Toru justru merasa lubang di hatinya semakin lama semakin membesar. Kehidupan di Tokyo semakin lama semakin menyakitkan baginya. Ia merasa sesak lantaran harus selalu menenggak kesepian meski berada di tengah keramaian. Dirinya terjepit dalam lingkaran seputar kehidupan dan kematian, dalam sosok perempuan dan ranjang. Orang-orang datang dan pergi, tetapi tidak ada yang sama sekali benar-benar peduli. Kemudian, ia mulai mempertanyakan apa perbedaan antara yang hidup dan yang mati, dan apa kiranya yang pantas dilakukan oleh mereka yang ditinggalkan agar tidak ikut terbawa “mati”.

Lalu, untuk apa kita hidup? Kepada siapa kita berduka, yang mati atau diri kita sendiri? Mengapa kita membutuhkan orang lain?

Dan mengapa kita tidak pernah benar-benar normal dalam menjalani hidup?

Norwegian Wood adalah salah satu karya Haruki Murakami yang, menurut saya, paling erotis dan sadis. Bukan sadis karena tokoh Toru yang dengan entengnya meniduri banyak perempuan, tetapi sadis karena tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya berkembang dengan cara yang kompleks–cara yang, menurut saya, sangat manusiawi. Murakami menggambarkan setiap inci karakternya dengan penuh perasaan, dengan gambaran mengenai kegelisahan yang tanpa disadari sering dialami manusia lantaran tidak pernah usai “berdialog” dengan dirinya sendiri secara detil. Tokoh Toru dan Naoko adalah contoh bagian dari “sisi lain” sudut hati manusia yang dibangkitkan dengan cara yang menyakitkan, juga paling payah dan rapuh, tetapi kita pun tidak bisa sembarang menyalahkannya. Kenyataan bahwa keterasingan dalam hidup, yang lagi-lagi tanpa disadari, sudah menjadi makanan kita sehari-hari, mungkinkah kita bisa dikatakan normal dalam menjalani hidup? Lalu, bagaimana hubungan antarmanusia yang selama ini telah kita bangun? Adakah “hasrat untuk sungguh-sungguh saling memahami” pernah terpercik di dalamnya?

Saya tidak akan berbicara banyak tentang tokoh Midori di sini, walaupun sesungguhnya kehadiran Midori sempat memberi impact yang lumayan besar bagi Toru selama masa-masa perpisahannya dengan Naoko. Midori adalah gadis nyentrik yang (sesungguhnya sedang) terluka. Ia selalu memiliki tempat untuk kembali dan merengkuh kehangatan, tetapi tidak pernah benar-benar tahu bagaimana caranya harus “pulang”. Kepribadiannya yang blak-blakan membuat Toru merasa nyaman, bahkan mulai belajar untuk terbuka. Tetapi keterbukaannya terhadap Midori yang kemudian membuatnya kembali bertanya-tanya akan Naoko: perlukah ia mempertanggungjawabkan perasaannya terhadap Naoko yang, sesungguhnya, Naoko sendiri pun belum paham ke mana hati kecilnya akan membawanya pergi?

Dan permasalahannya bukan terletak pada apakah Toru akan memilih Naoko atau Midori. Bukan. Bukan itu. Tetapi justru permasalahannya terletak pada bagaimana Toru akan menghadapi hidupnya, Midori, dan dirinya sendiri setelah kematian Naoko, yang sesungguhnya belum benar-benar terjawab karena novel ini berakhir menggantung.

… At last, Midori’s quiet voice broke the silence: “Where are you now?”

Where was I now?

Gripping the receiver, I raised my head and turned to see what lay beyond the telephone booth. Where was I now? I had no idea. No idea at all. Where was this place? All that flashed into my eyes were the countless shapes of people walking by to nowhere. Again and again, called out for Midori from the dead center of this place that was no place.

Penasaran dengan cerita lengkapnya? Yuk, bacasaja Norwegian Wood!