Judul: O
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2016
Tebal: 470 halaman
ISBN: 9786020325590

“… Apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin menjadi manusia.” – halaman 48.

Dikisahkan ada seekor monyet bernama Entang Kosasih yang memiliki mimpi setinggi langit. Ia, monyet yang begajulan dan bernyali besar itu, berkeinginan menjadi manusia, mengikuti jejak si Armo Gundul yang konon katanya adalah satu dari sedikit monyet yang berubah menjadi manusia.

Meski tahu bahwa menjadi manusia itu tidaklah mudah, Entang Kosasih tak pernah putus asa. Ia selalu mengamati apa yang para manusia lakukan, kemudian mempraktikannya sendiri. Terkena lemparan bonggol jagung saat akan mencuri sepeda roda tiga dan dipukul panci saat mengintip seseorang yang tengah mandi adalah salah dua hal yang tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi manusia.

Namun, obsesinya untuk menjadi manusia itu dianggap gila oleh kawanannya. Satu-satunya monyet yang mampu menerima kegilaan –dan masih menganggapnya waras– itu hanyalah O, sang kekasih. Meski begitu, bukan berarti O tidak pernah menentang keinginan Entang Kosasih.

O, yang berwatak polos serta lemah lembut, sendiri sebetulnya tidak ingin Entang Kosasih menjadi manusia. Sebab, dengan menjadi manusia, Entang Kosasih akan lupa dengan masa lalunya sebagai seekor monyet. Dan yang terpenting bagi O, pernikahan mereka di bulan kesepuluh yang sudah direncanakan jauh-jauh hari terancam batal –dan memang begitu pada akhirnya.

Sudah menjadi ciri khas Eka, O pun ditulis dengan melibatkan banyak tokoh –bahkan, saya rasa lebih banyak daripada tokoh pada novel-novelnya yang terdahulu. Selain O dan Entang Kosasih, tentunya, beberapa di antaranya ada si revolver, Sobar dan Joni Simbolon si polisi, Tomi Bagong, Kirik, Betalumur, Ma Kungkung dan Mat Angin, Jarwo Edan, dan Rudi Gudel. Dan kesemua tokoh tersebut digambarkan sebagai masyarakat kelas bawah dengan (mayoritas) watak bajingan, begajulan, dan tak jarang amoral –sama seperti penokohan yang Eka berikan pada para tokoh di karya-karyanya yang sebelumnya.

Meski lagi-lagi Eka menulis dengan alur yang acak, saya merasa O memiliki plot paling berantakan sekaligus unik di antara novel Eka yang lain. Di awal, sebetulnya, saya sempat membatin, “Lho, kok plotnya jumping di sana-sini?”.

Namun, ternyata, setelah sampai pada lembar pertengahan buku, yang saya maksud jumping itu justru berubah menjadi hal yang menarik. Ibarat puzzle, setiap –apa kata yang paling tepat untuk menyebutnya– subab (?) adalah kepingan-kepingan yang terserak. Menariknya, kepingan itu seolah bisa berdiri sendiri tanpa harus menggabungkan diri bersama kepingan-kepingan yang lain. Dan mungkin karena itu juga, saya merasa, narasi O ini sangat lincah.

Poin menarik lainnya juga terdapat pada judul yang hanya terdiri atas satu huruf, O, dan blurb-nya yang juga hanya satu kalimat –tapi percayalah bahwa cerita yang disuguhkan Eka kali ini tidak sesederhana judul dan blurb-nya. Dari segi pemasaran, saya pikir ini menarik karena, setidaknya, hal itu bisa memunculkan rasa penasaran, sehingga orang kemudian tertarik untuk membaca lebih lanjut –lepas dari apakah ia membeli atau hanya sekedar meminjam.

Di segi teknis, saya juga menyukai desain gambar dan pemilihan warna pada kovernya yang simpel tapi cukup representatif dalam menggambarkan wujud sang tokoh utama, O. Hanya saja, saya cukup menyangkan kualitas kertas kovernya yang mudah melengkung dan tertekuk.

Lepas dari itu, membaca buku ini membuat saya (kembali) tersadar bahwa rasa-rasanya memang betul kalau terkadang manusia lebih menyerupai binatang daripada binatang itu sendiri. Melalui buku ini, disadari atau tidak, Eka tengah menyindir halus perilaku manusia yang kian hari kian “gila”.

“Hidup adalah perkara makan atau dimakan … kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan,” – halaman 59.

Terakhir, satu hal yang juga penting, yang dijual oleh novel ini bukan soal akhir ceritanya. Melainkan, bagaimana jalan ceritanya. Akhir kata, jangan ragu untuk bacasaja O!