Judul: Perempuan Bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam Fiksi)
Penulis: Remy Sylado
Penerbit: Nuansa Cendekia
Terbit: Juli 2014
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-7768-61-1

Jika, pada episode pertama Remy bercerita panjang lebar soal filsafat barat –yang dikemas dalam cerita fiksi– pada episode kedua ini Remy bercerita panjang lebar soal sinologi. Bersama sang suami, Arjuna pergi ke Bandung untuk “berguru” pada Kan Hok Hoei soal xing jiao sekaligus berbulan madu.

Namun, dalam perjalanannya, diskusi-diskusi antara Arjuna dan van Damme dengan engkong Kan Hok Hoei ternyata tak berhenti pada seputar urusan xing jiao saja. Melainkan meluas hingga perihal budaya, politik, sejarah, dan ekonomi Cina. Dan hal-hal itu tak hanya dibahas secara umum saja, melainkan juga dihubungkan dengan potret kehidupan di Indonesia, yang menukik pada masalah rasial, pembauran, masakan dan musik, hingga seputar nyetun dan masih banyak lagi.

Saya pikir, bagi yang tertarik untuk belajar sinologi, buku ini cocok untuk dijadikan bacaan awal. Tak hanya sekedar memaparkan, melalui buku ini Remy menunjukkan dengan jelas bahwa budaya di Indonesia bahkan juga di barat sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Cina. Dan dibandingkan dengan seri pertamanya, Filsafat dalam Fiksi, Sinologi dalam Fiksi ini terasa lebih mudah untuk dipahami.

Lebih lanjut, rasanya bukan Remy jika tidak menyelipkan kritik-kritik atau sarkasme dalam tulisannya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah soal bagaimana kedutaan RRC menyuruh kepada media pers Indonesia untuk mengeja Cina menjadi China. Menurut Remy, kedutaan RRC ini berlebihan karena membongkar-bongkar bahasa Indonesia dengan selera prejudis. Dan sadar atau tidak, karena hal itu pula, Cina telah memerkosa bahasa Indonesia dengan menyuruh bangsa Indonesia mengganti lafal Melayu dengan lafal Inggris.

Lepas dari itu, secara teknis, saya menyayangkan soal masih banyaknya kesalahan penulisan. Misalnya, pada halaman 13 di mana kata kedutaan tertulis menjadi keduataan (huruf a dan t tersusun terbalik). Selebihnya, untuk tata letak halaman dalam menurut saya tidak ada yang bermasalah, susunannya rapi. Dan satu lagi, tidak seperti buku yang pertama, di buku kedua ini redaksi memilih menggunakan catatan kaki daripada catatan akhir. Alhasil, pembaca pun tak perlu repot-repot untuk membolak-balik halaman akhir.

Tertarik dengan bahasa dan budaya Cina? Maka, tak ada salahnya untuk bacasaja Perempuan Bernama Arjuna 2 (Sinologi dalam Fiksi)!