Judul: Pieces of You
Penulis: Tablo
Penerjemah: Meda Satrio
Penerbit: Matahari
Terbit: Juni 2013
Tebal: 229 halaman
ISBN: 9788954607575

I was eating at a restaurant. I saw an unfinished plate of grilled fish on the table behind me. Left over and left behind. I don’t know why, but I thought to myself, ‘That fish is just like me.’

Mengapa anak-anak muda di masyarakat identik dengan kenakalan remaja?

Muda. Beda. Berbahaya. Begitu kira-kira yang digambarkan oleh masyarakat mengenai anak muda. Identitas yang belum jelas, masa depan yang buram, namun ingin mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

Ya, pengakuan. Diakui karena ia ada, dihargai karena ia dicintai.

Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang cintanya terluka di masa mudanya. Sehingga menimbulkan bekas, bahkan bisa memengaruhi dirinya hingga berpuluh-puluh tahun mendatang. Karenanya, penting sekali bagi kita untuk memahami seperti apa lika-liku yang dialami anak muda. Setidaknya menjadi pendengar yang baik untuk mereka yang butuh pertolongan. Kita sendiri pernah mengalami serta tahu seperti apa rasanya masih hijau dan terguncang, bukan?

Dalam novel, atau lebih tepatnya kumpulan kisah pendek, Pieces of You karya Tablo, kita diajak mengenal isi hati anak muda lebih dalam, serta apa yang mereka pikirkan tentang dunia dan, tentu saja, diri mereka sendiri. Jika dibandingkan dengan penggambaran tokoh Toru dalam Norwegian Wood karya Haruki Murakami, mereka hampir sama. Muda, kacau, membutuhkan cinta, dan terluka. Tetapi Tablo mendeskripsikannya dengan cara yang lebih “muda” namun tetap melankolis. Segala detil kerumitan isi hati dan hubungan karakter dalam karya Murakami bisa tertuang dalam barisan kalimat sederhana nan puitis ala Tablo. Jika diibaratkan dengan hujan, penggambaran karakter tokoh-tokoh dalam Norwegian Wood seperti hujan yang turun secara mendadak saat kita sedang berjalan melalui gang-gang sempit ditemani cahaya bulan yang mulai temaram. Sedangkan dalam Pieces of You mereka seperti gerimis lembut yang turun bersamaan dengan kabut, membawa angin sepoi-sepoi namun dinginnya menusuk tulang. Kedua karya ini bisa membuat hati kita basah, namun dengan cara yang berbeda.

Misalnya, dalam cerita berjudul Andante, tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki bernama Jonathan yang mengagumi sang ayah, seorang pianis ternama. Ia mengikuti jejak sang ayah, tetapi Alzheimer memaksa sang ayah untuk berhenti bermain piano. Di tengah-tengah kebingungannya dalam menghadapi “bencana keluarga” ini, terbesit dalam pemikirannya untuk pergi meninggalkan segalanya. Jonathan akhirnya berhenti bermain piano dan hendak ke Jepang meninggalkan keluarganya. Menjadi muda memang sulit, sebab ia harus selalu memilih untuk bersikap dewasa atau mengikuti egonya untuk lepas dari tanggungjawabnya sebagai seorang anak kepada orangtua. Tetapi hati kecilnya selalu kembali kepada piano dan, tentu saja, sang ayah. Hingga akhirnya, di suatu malam, Jonathan melihat ayahnya sedang mendengar rekaman permainan pianonya sendiri saat ulang tahunnya yang ketiga belas. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka, namun dari situ Jonathan menyadari bahwa meski Alzheimer telah merenggut kemampuan ayahnya untuk bermain musik, ia lega karena ayahnya masih bernapas melalui musik dan dirinya. Dan ia tahu, ayahnya masih hidup.

Sedangkan dalam kisah-kisah berjudul Menghitung Denyut, Ruang Sempit, dan Kejahatan Berlatar Benci, tokoh-tokohnya digambarkan sebagai anak-anak muda yang tersesat, bahkan ada yang nyaris berada di ambang kematian. Ada kisah tentang Mike yang menghisap ganja namun sangat menyayangi ibunya yang sakit-sakitan, ada kisah tentang seorang anak laki-laki yang mulai mencoba merokok diam-diam, ada pula kisah mengenai Junseok, seorang pemuda keturunan Korea-Amerika yang baru saja membaca berita tentang pemuda Vietnam yang dihabisi oleh temannya sendiri karena ia orang Asia. Kisah yang diangkat sesungguhnya beberapa terkesan sederhana saja. Seperti dalam kisah tentang diam-diam belajar merokok atau reaksi seorang pemuda ketika membaca berita pembunuhan pemuda Asia seumurannya, rasanya seperti sedang “menonton” keseharian anak muda. Tetapi Tablo mengangkatnya dengan cara yang menyentuh. Setiap katanya membuat kita paham bahwa ternyata mencoba merokok pun butuh keberanian, atau bagaimana ia mempertanyakan identitas ke-Amerika-annya agar pemuda seperti Junseok bisa mendapat tempat perlindungan yang paling aman, juga bagaimana perasaan seorang anak yang menghisap ganja sambil memikirkan ibunya yang sedang terbaring lemah di kamar sebelah.

Banyak dalam kisah ini anak-anak muda yang diperlihatkan sebagai sosok yang masih “kasar dan rapuh” dalam melihat dunia dan menerima cinta. Ibarat lukisan yang belum jadi, mereka masih berupa sketsa kasar yang penuh guratan tak jelas di sana-sini–melambangkan berbagai luka yang telah mereka terima dan hadapi. Tidak pernah ada cerita yang benar-benar selesai di sini, semuanya berakhir menggantung. Meski demikian, tokoh-tokoh yang ada di dalamnya hidup dan seolah-olah mengerti apa yang digambarkan sebagai “kegalauan di masa muda”. Kita semua pernah mengalaminya, tetapi jarang sekali ada yang bisa memahaminya.

Saya sendiri paling suka dengan kisah Tikus Got. Bercerita tentang seorang pemuda bernama Mark yang sedang dikejar-kejar tuntutan sebagai seorang casting director film dewasa untuk segera menghubungi sang aktris sebelum shooting dimulai. Di sisi lain, ia terjebak dalam masalah menakutkan lainnya: ada seekor tikus got masuk ke dalam kamarnya dan membuatnya pontang-panting mencari alat penjebak tikus sebelum sang aktris datang ke rumahnya. Sesaat ia merasa konyol, tetapi ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bercumbu dalam damai dengan si aktris. Tetapi ketika segalanya mulai berjalan lancar, alat penjepit itu bekerja dan menimbulkan bunyi gencetan yang meremukkan dada. Sementara sang aktris menatap kematian si tikus dengan pandangan jijik, Mark memandangnya dengan tentram.

Ada lagi yang lebih menarik, yaitu dalam kisah yang berjudul Cuti. Kisahnya tidak panjang, hanya dua halaman. Namun, penggambaran karakter Frank selaku guru muda yang sedang berada di titik jenuh dalam hidupnya sangat terasa pahitnya sampai ke ujung lidah pembaca. Saat jam istirahat tiba, ia kemudian diam-diam meminum rum yang sedari tadi disembunyikan di meja tulisnya. Lalu, cerita itu berakhir dengan bunyi bel pertanda jam istirahat telah berakhir, ditutup dengan sebaris kalimat getir, “Tetapi bel itu, seperti tembakan dari sepucuk pistol, membawa badai suara kembali ke dalam ruangan dan menusuk dadanya.”

Sebagai informasi tambahan, penulis buku ini sendiri, Tablo, adalah seorang leader grup hip-hop ternama asal Korea Selatan, Epik High. Ia menghabiskan masa mudanya di berbagai negara karena pekerjaan sang ayah, yang juga menuntutnya harus menghadapi kerasnya penolakan anak-anak muda sekitarnya karena pengaruh lingkungan dan jati dirinya sebagai orang Asia. Ketika ia harus mengubah nama aslinya dari Lee Seon-woong menjadi Daniel Armand Lee (Tablo adalah nama panggungnya–red), ia sempat mempertanyakan apa yang salah dengan namanya dan identitasnya, dan juga mengapa ia mendapat perlakuan berbeda. Ia bahkan pernah dikeluarkan dari sekolah lantaran berkelahi dengan temannya. Di tahun-tahun terberatnya, ia menemukan kecintaannya terhadap musik dan menulis. Ia kemudian lulus sebagai mahasiswa terbaik dari program penulisan kreatif di Stanford University. Pieces of You sendiri adalah buku pertamanya dan sesungguhnya ditulis dalam bahasa Inggris, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Korea. Walau baru buku pertama, tulisan Tablo mendapat respon yang sangat baik di mata pembaca umum dan beberapa orang kritikus. Sebab “kejujuran” anak muda dalam setiap karakter yang ada pada kisah-kisahnya mampu mengingatkan kita kembali akan kesulitan yang pernah kita alami di masa muda, serta mengetuk hati kita untuk menyadari bahwa kita semua pernah muda, merasakan cinta, lalu jatuh-bangun menghadapi dunia dan meninggalkan bekas luka.

Nah, penasaran dengan cerita selengkapnya? bacasaja Pieces of You!