Judul : Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah
Penulis : Sisimaya
Penerbit : Diva Press
Terbit : Februari 2016
Tebal : 268 halaman
ISBN : 978-602-391-080-9

“Jika saat ini hampir semua orang bisa mendapatkan gula jawa dengan mudah, bagiku gula jawa tetap merupakan barang eksklusif. Mewah. Sebab demi gula jawa, aku harus mempertaruhkan banyak hal; termasuk karier cemerlang … dan cinta.” – halaman 9.

Novel dengan judul cukup panjang ini berkisah tentang kehidupan seorang pemuda bernama Agus yang jalan hidupnya penuh liku. Namun, siapa sangka seorang Agus yang hanyalah anak seorang penderes miskin mampu menjadi seorang auditor sekaligus trainer junior di umur yang belum ada kepala tiga.

Tetapi, dengan tiba-tiba, Bayu, sang Kakak, justru memintanya untuk kembali ke kampung halaman. Demi merintis sebuah usaha yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya, yakni pabrik gula jawa cair.

Melepaskan segala kenyamanan dan kemapanan yang telah ia dapatkan di ibukota tentu saja tidak mudah. Tapi, pada akhirnya, Agus memberanikan diri untuk melepas kemapanannya tersebut. Ia merasa tak enak hati kepada keluarga Bayu –ayah Bayu lebih tepatnya– yang telah mengangkatnya sebagai anak selepas meninggalnya sang ayah kandung. Oleh karenanya, dengan menyanggupi permintaan sang kakak, ia harap bisa membayar hutang budinya ke keluarga yang telah mengangkatnya itu.

Tetapi, tepat seperti kalimat, “bahwa hidup tak akan selalu berjalan mulus” begitulah jalan yang ditempuh oleh Agus. Banyak rintangan yang harus ia hadapi. Banyak pula hal-hal yang harus ia korbankan demi membantu mewujudkan mimpi sang kakak.

Nah, lepas dari fragmen kisah cinta Agus yang sedikit klise, secara keseluruhan novel ini menarik. Meskipun sederhana, namun cara penulis dalam bertutur sangat enak untuk dibaca. Lebih jauh, novel ini juga cukup informatif serta inspiratif. Inspiratif karena berbicara soal perjuangan meraih mimpi, dan informatif karena banyak hal baru seputar gula jawa, pabrik, pengolahan pangan yang –orang awam tidak ketahui– dipaparkan dengan baik di dalamnya.

Dari unsur instrinsiknya sendiri, novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama dan beralurkan maju. Latar tempat yang digunakan sebagian besar adalah Manggar Wangi, di Blitar. Untuk penokohan sendiri, Agus digambarkan sebagai seseorang yang mandiri dan patuh kepada orangtua. Kemudian, Bayu yang berusia tiga tahun lebih tua, adalah sosok yang cerdas, supel, dan tidak mudah menyerah. Sedangkan, Ratna, adik angkat Agus, adalah gadis yang periang serta kreatif.

Sayangnya, di segi teknis, masih dijumpai adanya kesalahan penulisan. Pada halaman 254 di paragraf keempat, misalnya, di mana Agus seharusnya ditulis menjadi Bayu.

Lepas dari itu, untuk tata letak, novel ini memiliki layout yang terbilang rapi, baik halaman kover maupun dalam. Khusus untuk desain gambar kover –siluet rumah mungil, pohon kelapa, dan pebrik mini– memang terbilang sangat sederhana, tapi sebetulnya juga tidak terlalu masalah. Toh, elemen-elemen gambar tersebut cukup merepresentasikan isi di dalamnya. Begitu pula dengan tata letak hurufnya yang dibuat zig-zag –menggambarkan lika-liku hidup sang tokoh.

Jadi, bacasaja Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah!