Judul: Senja di Karimunjawa
Penulis: Mira Tri Rahayu
Penerbit: PT Grasindo
Tahun terbit: 2014
Tebal: 176 halaman
ISBN: 9786022515258

Bisa jadi passion tidak akan pernah didapati ketika kita mencarinya. Bisa jadi justru passion sendirilah yang nantinya akan datang kepada kita, tanpa pernah sebelumnya kita mencarinya. Begitulah yang terjadi dengan Senja. Siapa yang menyangka bahwa misi pencariannya, ternyata, tak hanya berhasil membawanya bertemu dengan sang ayah.

Singkat cerita, novel ini berkisah tentang seorang gadis bernama Senja yang mana sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya. Kerinduan yang tak bisa lagi dipendamnya berujung pada keputusannya untuk mencari sang ayah. Bersama seorang temannya, pergilah ia ke Karimunjawa.

Tak disangka sesampainya di sana ia justru bertemu dengan sahabat lamanya juga. Hari-hari yang dijalaninya di sana tak hanya sekedar berwisata keliling pulau itu saja. Ia juga ikut mengajar di sebuah sekolah dasar yang masih jauh dari kata layak, baik dari segi fasilitas, tenaga pengajar, maupun bangunan.

Perjumpaannya dengan sang ayah sendiri baru “benar-benar” terjadi ketika ia hendak pulang. Meski sebentar, namun perjumpaan tersebut mampu mengurangi sedikit kerinduan dan memberi ketentraman pada hatinya.

Selepas dari perjalanannya ke Karimunjawa itu barulah kemudian ia menyadari bahwa tak hanya arti akan kehidupan saja yang ia temukan di sana, pada akhirnya perjalanannya itu juga menemukannya pada passion-nya: mengajar.

***

Secara garis besar, novel yang merupakan buah hasil inspirasi dari pengalaman KKN si Penulis ini bertemakan mengenai pendidikan. Tema yang masih terbilang jarang untuk novel-novel yang banyak beredar dipasaran. Bagi saya, pengangkatan tema tersebut merupakan poin plus dari novel ini.

Meski memang cerita yang diangkat di dalamnya hanya fiktif, namun secara tersirat pembaca di sini diajak untuk menengok kembali dunia pendidikan negeri ini. Terutama di daerah-daerah terpencil yang jauh dari pusat pemerintahan, seperti Karimunjawa. Meski memang Karimunjawa sendiri mulai tersohor karena tempat wisatanya, namun siapa yang sangka bahwa pendidikannya masih jauh dari kata setara dengan yang di kota-kota besar.

Satu hal yang menjadi catatan kecil di sini bahwa konflik yang ada pada novel ini masih cenderung datar. Emosi yang berusaha untuk dibangun di dalamnya belum mampu untuk menghantarkan emosi yang sama kepada para pembacanya.

Selebihnya, untuk masalah teknis sama sekali tidak ada masalah. Gambar sampulnya di design dengan sederhana, tetapi tetap cukup menarik untuk dilirik. Tata letak halaman dalamnya pun rapi. Dan satu hal lagi, judul yang diberikan pada novel ini, meski mungkin agak terkesan mainstream, namun tetap saja menarik. Lebih dari itu, judul yang diambil tersebut dapat memunculkan dua arti. Pertama, dapat ditafsirkan bahwa Senja (nama sang tokoh utama) sedang di Karimunjawa. Kedua, dapat juga ditafsirkan sebagai senja (ketika matahari tenggelam) di Karimunjawa. [AA]

Penasaran dengan novel yang terinspirasi dari kegiatan KKN? Yuk, bacasaja Senja di Karimunjawa!

 

*) tulisan ini pernah dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat edisi 31 Agustus 2014 dengan judul “Passion itu Tak Terduga”.