Judul : Anna Karenina
Penulis : Leo Tolstoy
Penerbit : Narasi
Terbit : 2015
Tebal : 216 halaman
ISBN : 979-168-399-9

“Tahukah kau, bahwa kau adalah seluruh hidupku, seluruh adaku, cinta kasihku. Bagiku, aku dan kau adalah satu. Walau aku tidak melihat kemungkinan ada kedamaian … hanya penderitaan, ketidakbahagiaan.” – halaman 47.

Dalam filmnya, yang digarap oleh Joe Wright, Anna digambarkan dengan sosok yang sangat cantik, memesona, dan banyak dikagumi. Begitu pula dalam novel yang dengan judul serupa yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama –ulasannya saya tulis di sini. Namun, tidak begitu dalam novel versi terbitan Narasi ini. Kecantikan Anna tidak dieksplor dengan wah.

Meski begitu, hal tersebut bukanlah suatu masalah. Sebab, saat mulai menulis Anna Karenina sendiri, konon, Tolstoy memang tidak menggambarkannya sebagai sosok yang cantik, bahkan ia sama sekali tidak menyukai tokoh yang dibuatnya itu. Hanya saja, memang seiring jalannya kisah ini –saat ditulis– perasaannya berubah sebaliknya.

Di sini Anna dikisahkan sebagai istri seorang bangsawan. Suaminya, Count Alexei Alexandrovich Karenin, memiliki kedudukan yang cukup tinggi dan terpandang. Letupan-letupan kecil mulai muncul sesudah Anna dan Vronsky, untuk pertama kalinya, bertemu di kereta. Tak disangka, pertemuan tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masa depan mereka.

“Cinta itu buta”, begitu kata orang-orang. Dan itulah yang terjadi pada Anna dan Vronsky. Perasaan berbunga-bunga di antara keduanya, membuat mereka tega berselingkuh di depan Karenin. Janji-janji dan romantisme memang mengisi kehidupan cerita mereka di awal. Namun, semakin lama, perasaan cinta itu justru membelenggu mereka. Vronsky tersiksa karena merasa tak bebas. Sedangkan, Anna tersiksa karena perasaan terasing dan penolakan Karenin untuk menceraikannya serta tak bisa bertemu dengan anaknya lelakinya –Seriozha.

Tentu buku ini tak hanya bercerita soal kehidupan Anna saja. Ada tokoh lain selain yang sudah disebutkan di atas, di antaranya adalah Kitty dan Levin, serta Stiva dan Dolly. Berbeda dengan Anna Karenina terbitan Gradien Mediatama, oleh Narasi kisah Anna dan Vronsky di sini terlihat sekali dikontraskan dengan kehidupan Kitty dan Levin.

Anna dan Vronsky digambarkan sebagai orang kelas atas yang tanpa disadari cinta mereka malah saling melukai. Sedangkan, Kitty dan Levin digambarkan sebagai sosok dengan kehidupan yang sederhana namun memiliki kisah yang berakhir bahagia.

Poin menarik dari versi terbitan Narasi ini adalah pemaparan yang detail soal betapa menderitanya Anna dan Vronsky seiring berjalannya kisah –hal ini kurang dieksplor oleh terbitan versi Gradien Mediatama yang sudah saya baca sebelumnya.

Sayangnya, pada novel yang ditulis dengan sudut pandang orang ketiga ini, pembangunan emosi cerita kurang tergambarkan dengan baik. Lebih jauh, di bagian awal, alurnya berjalan terlalu cepat dan terdapat banyak jumping. Akibatnya, saya merasa banyak bagian yang hilang. Parahnya, beberapa bagian yang hilang tersebut adalah bagian atau dialog yang cukup penting. Kekurangan lain juga saya jumpai pada segi teknis, yakni soal masih sangat banyaknya kesalahan penulisan.

Lepas dari itu, soal tata letak, halaman dalam novel ini memiliki layout yang cukup rapi. Soal ornamen border pada setiap permulaan bab, meski sebetulnya tidak relevan, namun saya pikir tidak terlalu bermasalah. Sedangkan, untuk kover sendiri, konsepnya terbilang sederhana. Namun, cukup terlihat representatif dengan cerita di dalamnya, dengan Anna sebagai tokoh utamanya.

Akhirnya, tak ada salahnya untuk bacasaja Anna Karenina di kala senggang!