Judul: The Architecture of Love
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2016
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-2926-0

“People say that Paris is the city of love, but for Raia, New York deserves the title more. It’s impossible not to fall in love with the city like it’s almost impossible not to fall in love in the city.”

Perasaan sedih karena kehilangan muse-nya serta jengkel karena semenjak itu ia merasa tak lagi bisa menulis, membawa Raia pergi ke Kota New York. Sebagai seorang penulis, tujuan Raia ke kota itu hanya satu, yakni mengejar inspirasi. Semenjak tinggal di sana, hampir setiap pagi dirinya berjalan kaki menyusuri jalanan Brooklyn hingga Queens. Raia menjadikan setiap sudut kota itu sebagai kantornya. Mencari sepenggal cerita di setiap jengkalnya, dalam percakapan yang tak sengaja maupun sengaja didengarnya, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bersirobok dengan matanya, dalam segala kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.

Akan tetapi, hingga hari berganti minggu, minggu berganti bulan, catatannya masih saja kosong. Tak ada satu kata pun yang sudah tertuang. Layar laptopnya masih kosong, tak ada cerita barang sepenggal saja. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan River untuk kali kedua di Wollan Skating Rink.

Singkat cerita, semenjak itu mereka berdua sering berpergian menyusuri kota bersama –Raia untuk mencari inspirasi, sementara River untuk menggambar. River mengajarinya melihat New York dengan cara yang berbeda. Dan oleh karena itulah, baris demi baris cerita mulai memenuhi layar laptopnya, yang siapa sangka mengubah hidupnya juga.

—–

Secara keseluruhan, novel ini terbilang menghibur. Salah satu poin plus dari cerita di dalamnya adalah latar tempatnya yang mana ditulis dengan detail. Oleh karenanya, tak heran jika kemudian banyak pembaca yang menyatakan bahwa Ika berhasil membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar hidup.
Lebih jauh, di novel ini kita akan kembali menemui ciri khas Ika. Mulai dari pemilihan diksi, gaya berceritanya yang segar dan renyah, hingga karakter para tokohnya. Menurut saya, Ika Natassa adalah salah satu penulis yang memiliki ciri khas yang kuat.

Akan tetapi, ada dua hal yang cukup saya sayangkan dari novel ini, pertama, soal pergantian sudut pandang orang ketiga menjadi sudut pandang orang pertama. Menurut saya, pergantian yang mendadak tersebut justru mengganggu dan menimbulkan kesan yang timpang dalam cerita. Kedua, soal akhir cerita, yang menurut saya, tanggung sekali. Tidak seperti novel-novelnya yang sebelumnya, akhir cerita The Architecture of Love ini bagi saya terasa sedikit dipaksakan.

Lepas dari itu, dari segi teknis, novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang baik. Halaman dalamnya ditata dengan rapi. Penggunaan jenis dan ukuran huruf pun terbilang pas, tidak terlalu kecil maupun terlalu besar. Lebih lanjut, adanya beberapa ilustrasi di dalamnya menjadi poin menarik tersendiri dari novel ini. Ilustrasi-ilustrasi tersebut mampu menambah kesan hidup cerita di dalamnya.

Kemudian, untuk kovernya sendiri, memiliki tata letak yang tertata rapi. Mulai dari desain gambar, pemilihan warna, dan pemilihan huruf sekilas memang terlihat sederhana. Namun, perpaduan yang sederhana itu di sisi lain justru menimbulkan kesan elegan. Hanya saja, saya cukup menyayangkan jenis kertas yang digunakan untuk kovernya karena mudah rusak. Selain itu, bagi saya pribadi kertas yang digunakan relatif tebal, sehingga rasanya agak kurang nyaman di tangan.

Selebihnya, saya pikir tidak ada masalah. Dan jika kalian memiliki waktu luang berlebih, tak ada salahnya untuk bacasaja The Architecture of Love!