Judul: ULID (Sebuah Novel)
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Pustaka Ifada
Cetakan: Kedua, Februari 2016
Tebal: xxii + 538 halaman
ISBN: 9786027225022

Berlatar belakang sebuah desa di Jawa Timur, pembaca disuguhkan pada realita yang dihadapi masyarakat desa. Bukan hanya minim perhatian pemerintah namun mereka juga kalah oleh pasar, kalah oleh pemodal. Bahkan kini, para petani dari beberapa wilayah terancam pekerjaannya. Tidak saja karena pasar, namun juga alih guna lahan yang direncanakan pemerintah. Juga karena anak muda lebih tertarik bekerja di kota daripada menjadi petani di sawah mereka.

Ulid adalah nama tokoh utama dalam buku ini. Melalui Ulid, pembaca mengenal Lerok, sebuah desa di Jawa Timur yang mengalami perubahan. Lerok adalah desa yang terisolir baik oleh kendaraan maupun pasokan listrik. Hal ini dikarenakan letak Lerok yang berbatasan langsung dengan bukit, sehingga sulit untuk dilalui kendaraan. Kecelakaan yang dialami oleh kusir dokar menjadikan Lerok semakin terisolir.

Kehidupan Lerok adalah cermin pedesaan, kehidupan para petani yang bergantung hasil panen. Pembakar gamping yang memiliki risiko tinggi karena harus pandai menyimpan kayu agar tidak tertangkap petugas Perhutani. Serta pendidikan yang masih asing.

Lerok adalah desa yang memproduksi bengkoang. Bengkoang lerok merupakan bengkoang yang manis begitu Ulid selalu membanggakan bengkoangnya. Namun, masyarakat hanya menjadi petani bengkuang saja. Sehingga ketika harga bengkuang turun masyarakat tidak dapat berbuat banyak. Pembakar gamping pun tidak dapat menjamin kehidupan mereka. Adanya pabrik semen menjadikan harga gamping Lerok anjlok.

Lalu apa yang terjadi? Merasa tidak dapat berkembang di desa Lerok beberapa orang memutuskan untuk menjadi TKI. Awalnya beberapa dan kemudian menjadi sebagian dari penduduk Lerok.

Yang terakhir disebut merupakan awal perubahan wajah Lerok. Lerok yang mengandalkan genset untuk asupan listrik berubah dengan tiang beton listrik. Masjid yang awalnya ramai dari sore hingga malam hari bahkan menjadi tempat tidur untuk remaja tanggung menjadi sepi. Sawah dan ladang yang menjadi tempat pencaharian kemudian sepi dan tak terurus. Jubung –tempat pembuatan gamping- pun perlahan namun pasti, rubuh.

Buku ini tentu akan membosankan jika membahas polemik pedesaan secara langsung seperti yang telah disebutkan. Maka, Mahfud adalah penulis yang cerdas, ia menghadirkan Ulid dan mengisahkan emosi batin Ulid. Sejak Ulid kecil hingga dewasa. Kepiawaian Mahfud dalam mengemas emosi Ulid secara mendetail menjadikan pembaca merasa dekat dengan Ulid. Sungguh buku ini menjual realita bukan hanya bertujuan membahagiakan pembaca.

Ulid adalah anak yang cerdas, bapaknya bahkan meyakini bahwa Ulid cerdas sejak kecil. Ulid senang dengan sekolah hal itu tidak lepas dari peran bapaknya yang menjadi kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah di sana. Kepintaran inilah yang mengantarkan Ulid mengenal Juwairiyah, sumber ketakutan sekaligus cinta pertama Ulid. Juwairiyah juga yang memengaruhi Ulid dalam memutuskan jalan hidupnya.

Sayangnya, kecerdasan Ulid dan usahanya untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya tidak mampu terpenuhi. Harapan untuk kuliah itu kandas ketika ia memutuskan untuk menyusul Mamaknya di Malaysia. Negara yang sejak kecil ia tak sukai itu.

Anak laki-laki pertama, memiliki tiga orang adik yang masih di bangku Madrasah Ibtidaiyah dan Taman Kanak-Kanak menjadikan Ulid memantapkan diri. Bapaknya, Tarmidi yang terganjal kasus imigrasi menuntut Mamak Ulid ke Malaysia menjadi asisten rumah tangga. Merasa bahwa adiknya masih membutuhkan perhatian Mamaknya, Ulid bergegas ke Malaysia tanpa menunggu ijazah dan pengumuman PMDK.
Ulid diterima di jurusan pemulia tanaman di Unibraw demikian yang tertulis dalam surat yang dikirimkan ke rumah. Tarmidi terenyuh sekaligus sedih. Bapak yang mengharapkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya merasa gagal. Namun, ia sadar setelah Ulid masih ada Isnan, Imron, dan Nisa. Ia kemudian kembali menjajal peruntungan di Malaysia.

Hingga akhirnya Tarmidi, Kaswati, dan Ulid bekerja secara terpisah di Malaysia. Malaysia tidak mengubah Ulid. Ia tetap mencintai bengkuang dan ingat dengan gamping Lerok. Ulid menanam bengkuang di belakang mess nya, meski rasa bengkuang Malaysia tidak semanis di Lerok. Meskipun bibit tanamannya sama.

Kepergian warga Lerok ke Malaysia bukan hanya proses meninggalkan ladang dan jubung. Namun, kepergian mereka juga meninggalkan hutang. Beberapa bisa membayar dengan gaji beberapa bulan di Malaysia. Namun tidak sedikit juga yang harus merelakan ternak, ladang, bahkan batuan bukit untuk membayar hutang keberangkatan.

Sungguh miris bukan. Tanah-tanah sumber produksi mereka digadaikan dengan menjadi buruh di negara tetangga. Lambat tapi pasti mereka kemudian menjadi manusia-manusia yang mengenal pola konsumsi.

Mahfud Ikhwan menghadirkan buku ini seperti sedang menyentak pembaca. Menggunakan sudut pandang ketiga menjadikan pembaca merasa hanya sebagai penonton saja. Namun justru ini menjadi keunggulan dalam buku ini, karena pembaca menjadi pengamat. Mencocokkan dengan kehidupan di sekitarnya. Buku ini juga menyajikan detail sehingga bagi pembaca yang tidak mengalami pun dapat memahami alur ceritanya.

Istimewanya adalah isi cerita. Sekali lagi saya menegaskan buku ini adalah buku yang mengisahkan realita. Perjuangan anak miskin untuk menuntut ilmu tidak semua tercapai, banyak yang mengalami hal yang sama seperti Ulid. Kandas. Kisah cinta pun tak selamanya sampai, kadang kesetiaan tergadai dengan kenyamanan masa depan.

Enam tahun lalu buku ini hadir diantara buku-buku bertemakan pendidikan dan agama. Tentu kelahirannya kembali membawa beberapa perubahan. Seperti desain sampul. Kehadiran kembali buku ini dengan sampul baru yang lebih menggugah dari sampul sebelumnya saya harap dapat menjadi titik awal kesuksesan Ulid. Karena Ulid dan Lerok dapat terjadi kepada siapa dan di mana saja. Hingga saat ini banyak Ulid-Ulid lain tengah berjuang menempuh pendidikan ditengah himpitan ekonomi. Banyak sawah-sawah yang tergadai demi menjadi buruh di kota. Mendapatkan kehidupan lebih layak begitu katanya, namun nyatanya tidak semudah membalik telapak tangan.

Akhir kata, jika anda ingin merasakan kembali desa dan kehidupannya silakan bacasaja Ulid: Sebuah Novel.