Judul: Epistemologi Kiri
Penulis: Listiyono Santoso, dkk.
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Cetakan: IX, 2013
Tebal: 360 hlm, 14×21 cm
ISBN: 979-3417-10-2

Entah dimulai sejak kapan, tetapi istilah kiri seolah-olah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, istikah “kiri” seringkali dikaitkan dengan komunisme – di mana konstruksi-rekonstruksi sejarah komunisme di Indonesia terasa begitu kelam. Ketika kedua hal ini disatukan, tidak dapat terbantahkan lagi bahwa stigmasisasi istilah “kiri” terkesan begitu jahat. Terutama doktrin yang mewabah selama berpuluh-puluh tahun pada zaman orde baru (yang sebenarnya zaman itulah yang menjangkit jauh lebih kejam) untuk membenci komunisme dan segala hal yang berbentuk “kekiri-kirian”.

Walaupun orde baru telah runtuh lebih dari satu dekade silam, namun doktrin orde baru untuk melihat komunisme dan segala hal yang berbentuk “kekiri-kirian” sebagai sesuatu yang bersifat merusak dan jahat telah berhasil mengakar kuat. Komunisme, sekaligus hal-hal yang bersifat “kiri” telah begitu dipandang rendah dan dibenci. Bahkan, limabelas tahun yang lalu, tahun 2001, terjadi sweeping besar-besaran untuk membumi-hanguskan buku-buku yang dianggap bersifat kiri. Di zaman sekarang ini pun, sinisme terhadap hal-hal yang bersifat kiri masih terus berlangsung. Laiknya sebuah sistem dalam ekosistem, istilah “kiri” dianggap sebagai parasit yang mampu berkembang biak dengan cepat sekaligus “merusak”.

Namun, apakah memang begitu? Selama bertahun-tahun, komunisme (tidak hanya di Indonesia) memang dianggap begitu mengerikan. Amerika yang berjaya dengan Hollywood selalu menampilkan film-film yang memposisikan negara-negara seperti China dan Rusia sebagai musuh dunia – seolah-olah menasbihkan kepada alam semesta bahwa komunisme adalah kebencian milik bersama. Hal ini pula yang terjadi di Indonesia pada masa orde baru (hingga kini). Fathimah Fildzzah Izzati mengatakan bahwa salah satu tugas Kiri saat ini adalah justru menjadikan komunisme, atau sosialisme menjadi kebutuhan bersama sebagai jalan keluar satu-satunya atas kebuntuan sistem ekonomi-politik hari ini.[1]

Hal itulah yang juga diwacanakan dalam buku Epistomogi Kiri ini. Buku berupa kumpulan esai-esai tentang paradigma dan arah pemikiran (yang dicap kiri) ini memang membahas mengenai pemikiran para filsuf-filsuf kiri. Terdapat tigabelas tokoh filsuf Kiri yang diwacanakan dalam buku ini. Mulai dari Karl Marx yang getol dengan anti kemapannya hingga Ashgar Ali Engineer, seorang filsuf Islam yang menawarkan konsep teolgi pembebasan.

Secara lebih lengkap, sebelas filsuf yang lain adalah Friedriech W. Nietzsche, Antonio Gramsci, Max Horkheimer, Herbert Marcuse, Paulo Freire, Paul K. Feyerabend, Michel Foucault, Mohammed Arkoun, Jugen Habermas. Jacques Derrida, dan Hassan Hanafi. Listiyono, salah satu penulis buku ini mengatakan bahwa istilah “kiri” semestinya menjadi biasa dalam perbincangan kita. “Kiri” adalah kebiasaan sekaligus kesepakatan untuk membedakan yang sebelah “kanan”. [2] “Kiri” selalu dianalogikan sebagai hantu yang menakutkan dan bencana besar yang merusak. Padahal, wacana pemikiran “kiri” adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang nakal untuk menghancurkan segala hal yang berbau kemapanan, terutama kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern. Dengan adanya pemikiran mapan bahwa “kiri itu mengerikan”, singkatnya buku ini menawarkan tematisasi pemikiran para filsuf yang dicap “kiri”.[3]

Pada dasarnya buku ini ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa terdapat pengetahuan-pengetahuan yang muncul akibat cara berpikir dengan “filsafat kiri”. Kondisi lingkungan, tekanan kekuasaan, dan kemiskinan membuat para filsuf-filsuf ini membentuk pola pikir yang sebegitu radikalnya dalam membenci sistem kemapanan-kemapanan yang semestinya dikritisi. Paulo Freire misalnya, hidup dalam kemiskinan dan seringkali merasakan lapar. Rasa laparnya inilah yang kemudian mendorongnya untuk melawan kemiskinan. Melawan dengan cara apa? Freire melawannya dengan mengkritisi pendidikan yang disebutnya “pendidikan bergaya bank”.

Lebih jelasnya lagi pemikiran “kiri” adalah sebuah bentuk epistemologi. Pemikiran-pemikiran kiri juga terbentuk karena adanya filsafat. Pemikiran dari filsuf “kiri” itu sendiri adalah bentuk lain dari pengetahuan yang sudah mapan. Pengetahuan kanan yang harus diselaraskan (dikritisi) dengan pengetahuan kiri. Hal ini adalah sebuah keniscayaan karena pada dasarnya pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang tidak universal dan konstan dari awal hingga akhir. Hal ini merupakan pemikiran Paul Karl Feyerabend yang melakukan kritik terhadap pengetahuan. Dalam buku ini, kritik tersebut disebut anarkisme epistemologis.[4]

Pertumbuhan dan perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Filsafat merintis dan membidani lahirnya ilmu. Oleh karena itu, untuk dapat memahami ilmu terlebih dulu harus memahami filsafat. Filsafat dapat menjadi pionir yang membantu dan mencari serta menemukan obyek, pedoman, dan arah kepada pengetahuan. Nah, buku ini sendiri merupakan “alat” yang tepat untuk menelusuri arah pemikiran seperti apa yang digagas oleh para filsuf kiri. Mereka membentuk pengetahuan yang kritis dengan latar obyek seperti apa? Dari sinilah kita dapat memahami bahwsanya istilah “kiri” yang dianggap mengerikan itu sama sekali tidak benar. Buku ini menjadi pengantar bagi pemikiran kiri itu sendiri. Pemikiran “kiri” sendiri pun merupakan proses berfilsafat yang kemudian menghasilkan pengetahuan kritis sebagai pembanding dari pemikiran yang sudah mapan.

Ada banyak hal yang bisa didedah satu per satu dari buku ini sebenarnya. Terdapat setidaknya sembilan penulis di dalam buku ini dalam mengemukakan pola-pola pemikiran para filsuf Kiri. Mulai dari Karl Marx yang menjunjung dialektika, Gramsci yang mengkritisi Marx, Foucault dengan istilah genealogi dan arkeologinya, Jugen Habermas dengan konsep etika, dan para filsuf-filsuf lainnya. Satu hal yang menyamakan pemikiran mereka adalah keinginan untuk mendobrak “kemapanan”. Mereka berpikir, berfilsafat,dan membentuk konsep-konsep pengetahuan atas dasar penolakan terhadap sistem yang sudah terlanjur mapan. Inilah yang kemudian diungkapkan oleh Listiyono di awal buku ini. Bahwa wacana pemikiran “kiri” adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang nakal untuk menghancurkan segala hal yang berbau kemapanan, terutama kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern.

Salah satu hal yang bisa menampar kita dalam berpikir bahwa berfilsafat bukanlah tentang mengamini semua sistem yang telah mapan. Buku ini telah mengajarkan demikian dengan pembahasan secara singkat tentang arah pemikiran yang diwacanakan oleh para filsuf “kiri”. Mengapa mereka berpikir? Selain menunjukkan “keberadaan”, proses berpikir yang dilakukan adalah untuk menentang keadaan-keadaan mapan yang tentu saja merugikan. Berpikir bukan sekadar membaca dan menghapal banyak buku seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire.[5] Namun proses berpikir juga membaca, melihat, dan meninjau ulang-ulang sistem-sistem yang telah dinobatkan menjadi raja – terutama dalam raja pengetahuan dan bagaimana orang-orang mengunggulkan pengetahuan. Seperti yang ditentang oleh Feyerabend dalam anarkisme epitesmologinya.

Menurut Feyerabend, ilmu pengetahuan hanya merupakan salah satu jalan, salah satu ideologi dari sekian banyak ideologi yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian, tidak selayaknya kita mengunggulkan pengetahuan sebagai hal yang paling menentukan dalam kehidupan masyarakat. Selain para pemikir yang berasal dari Barat, salah satu penulis buku ini, yaitu Listiyono Santoso, juga mendedah pemikiran orang-orang dari dunia Timur (Islam). Filsuf tersebut adalah Hassan Hanafi yang mengkritik epistemologi rasionalitas modern.

Seperti pemikiran-pemikiran lain yang diwacanakan dalam buku ini, Hanafi pun mengkritisi rasionalitas modern yang hanya berorientasi di dunia barat. Pengetahuan, wacana, gagasan, dan pemikiran yang dulu (hingga kini) tersebar di dunia ini berasal dari para filsuf Barat. Hassan melihat ini sebagai celah kelumpuhan pengetahuan dunia Timur. Dunia barat teleh menghegemoni bahkan melalui sumber akar yang cukup kuat di masyarakat, yaitu pengetahuan. Proses hegemoni ini disebut dengan westernisasi. Menurut Hanafi, westernisasi telah menghilangkan spirit tradisi dan pembaruannya yang selama berabad-abad dimiliki oleh dunia Islam. Inilah yang kemudian menjadi pemantik pemikirannya atas kritiknya terhadap hegemoni Barat. Dalam hal ini, ia pun mewacanakan bahwa pemikiran-pemikiran dalam dunia Timur pun juga sebenarnya memberikan pengaruh dalam sejarah filsafat ilmu dan pengetahuan.

Secara keseluruhan, buku ini menjelaskan tentang proses berpikir yang “menentang” – sebuah cara berfilsafat yang melahirkan pengetahuan pembanding. Kanan tidak akan disebut kanan jika tidak ada kiri. Ini adalah proses keniscayaan karena proses berpikir dan berfilsafat pada dasarnya adalah membaca fenomena. Pola berpikir yang kiri seperti para Filsuf Kiri dalam buku ini adalah proses antitesis dari sintesis pemikiran sebelumnya. Lagi-lagi, mengamini Listiyono, wacana pemikiran “kiri” adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang nakal.

Salah satu kekurangan dari buku ini adalah tidak adanya wacana yang jauh lebih luas. Para penulis (kebanyakan) hanya menjelaskan bagaimana proses berfilsafat para Filsuf Kiri dan menciptakan gagasan-gasan yang menentang kemapanan. Membaca buku ini seolah-olah menjadi sesuatu hal yang menggantung. Kita diajak untuk terbang, tetapi hanya melayang-layang di udara tanpa mendapat capaian tujuan-tujuan yang lain. Buku ini hanya menawarkan epistomologi kiri dan wacana atas istilah “kiri” dari para Filsuf. Tidak ada tawaran lain selain kita sebetulnya hanya membaca ringkasan biografi para filsuf Kiri.

Namun, hal ini menjadi wajar karena esai-esai ini senyatanya adalah tugas-tugas para penulisnya saat bekuliah di S2 Filsfat UGM. Pada dasarnya, para penulis buku ini pun juga tengah dalam proses belajar. Sehingga, pada dasarnya buku ini hanya sebatas “intro” atas epistemologi kiri sendiri. Jika mau, mungkin Listiyono dan semua penulis di buku ini bisa menggarap buku berkelanjutan dengan tema sama dan tentu saja jauh lebih mendalam.

Ada satu hal lagi yang menggelitik saya secara pribadi tentang ungkapan Listiyono berkaitan dengan istilah “kiri”. Sekali lagi, saya ingin kembali menuliskan bahwa wacana pemikiran “kiri” adalah pemikiran dan gerakan sosial yang senantiasa melawan, mengkritik, dan memang terkadang nakal untuk menghancurkan segala hal yang berbau kemapanan, terutama kekuasaan otoriter dan kapitalisme modern. Definsinya tentang pemikiran “kiri” ini membuat saya berpikir bahwa pemikiran akan terus beregenerasi.

Sebuah pemikiran muncul atas pemikiran lain yang dianggap “tidak sesuai”. Semua ini terus terjadi dan berkelanjutan. Sementara di Indonesia sendiri, perdebatan arah pemikiran masih berada di tataran antara kanan dan kiri. Sekalipun, tidak dapat dipungkiri, sebagian orang menyatakan bahwa tindakan dan pikirannya adalah netral. Tidak kanan dan juga tidak kiri. Saya baru saja berpikir bahwa saat ini kanan tengah “dilawan” dengan kiri. Jika pada suatu saat nanti pemikiran kiri pun menjadi mapan, pemikiran seperti apakah yang akan melawannya?

Saya pernah mendengar sebuah ungkapan salah satu jurnalis India (yang kini Menetap di Amerika), Fareed Zakaria yang mengatakan bahwa pertempuran di dunia ini berasal dari tulisan. Kehebatan sebuah negara ini berasal dari tulisan. Dan dari tulisan itu pula, kita akan mewacanakan gagasan. Dengan demikian, gagasan seperti apa yang akan menentang epistemologi kiri (dan juga kanan)? Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah pembacaan ulang.

 


 

Referensi

Freire, Paulo. 1999. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan (terj.) REaD Yogyakarta: (Research, Eduaction, and Dialogue) & Pustaka Pelajar

Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya pasca 1965 : Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film.Tangerang Selatan : CV Marjin Kiri.

Izzati, Fathimah Fildzah dalam Orde Baru dan Kebencian terhadap Komunisme yang Tak Kunjung Usai terarsip pada http://indoprogress.com/2014/08/orde-baru-dan-kebencian-terhadap-komunisme-yang-tak-kunjung-usai/. Diakses pada tanggal 12 April 2016.

Listiyono dkk., 2013. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

[1]Terarsip pada http://indoprogress.com/2014/08/orde-baru-dan-kebencian-terhadap-komunisme-yang-tak-kunjung-usai/ diakses pada tanggal 12 April 2016.

[2]Listiyono dkk., 2013. Seri Pemikiran Tokoh: Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hlm. 15

[3] Ibid.

[4]Ibid. 147

[5] Paulo Freire. 1999. Politik Pendidikan: Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan (terj.) REaD Yogyakarta: (Research, Eduaction, and Dialogue) & Pustaka Pelajar. Hlm. 33.