Judul: Politik Pendidikan (Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan)
Penulis: Paulo Freire
Penerjemah: Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudiyartanto
Penerbit: REaD (Research, Eduaction, and Dialogue) & Pustaka Pelajar
Tahun Terbit: I. 1999
Tebal: xxxvi + 351 hlm.
ISBN: 979-9288-15-7

Salah satu pertanyaan besar yang mesti dikemukakan oleh setiap pelajar adalah: “apa yang saya pelajari dari sekolah?”. Sayangnya, pertanyaan semacam ini jarang sekali dilontarkan oleh pelajar. Kebanyakan dari mereka hanya menerima semua yang disampaikan oleh pengajar mereka. Mereka tidak mendapatkan ruang untuk berpikir kritis terhadap sistem yang terdapat dalam pendidikan.

Orang-orang pun hanya melihat ilmu pengetahuan sebatas untuk ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan hanya dipersepsikan sebagai medium untuk mencari pekerjaan. Masyarakat pada dasarnya melihat sekolah sebagai alternatif praktis menjadi “pekerja yang unggul”. Mereka tidak melihat pendidikan adalah bentuk pemberdayaan dan pembebasan atas sistem yang membelenggu manusia.

Mengapa esensi utama pendidikan malah begitu jauh dari hakikat manusia itu sendiri? Sistem pendidikanlah yang membuat pelajar – masyarakat itu sendiri tercipta sebagai pihak yang pasif. Apa yang terjadi di Indonesia, pada khususnya, menganut sistem pendidikan yang menumpulkan proses berpikir siswa didiknya.

Sekolah pada hari ini, telah memandulkan rasa kritis dengan melenyapkan rasa ingin tahu yang besar. Institusi pendidikan, dimulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi hanya mendidik siswanya untuk menjadi pekerja yang “patuh”. Sistem pendidikan yang dianut adalah sistem pendidikan bergaya bank. Sistem ini memperlakukan manusia sebagai objek. Mereka adalah komoditas yang menjadi aset utama sekolah untuk mencetak generasi “pekerja patuh” yang unggul. Sedangkan siswa yang menggugat adalah pemberontak, anak nakal, dan patut untuk dihukum dan bahkan harus dikeluarkan dari sekolah.

Keresahan terhadap sistem pendidikan membuat Paulo Freire melakukan riset panjang terhadap hal tersebut. Penelitian dan gagasannya terhadap pendidikan itu kemudian dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Politik Pendidikan”.

Menjadikan Amerika Latin sebagai wilayah penelitiannya, Freire melihat bahwa pendidikan pada umumnya mendidik siswanya untuk menghapal, bukan berpikir (secara kritis). Mereka hanya bejana kosong yang harus diisi. Walaupun penelitiannya dilakukan di Amerika Latin, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa “pendidikan bergaya bank” yang dikemukan oleh Freire juga terjadi di negara lain. Indonesia, misalnya, masih banyak sekolah-sekolah yang menempatkan siswanya sebagai obyek. Mereka hanya dituntut menghapal apa yang diberikan oleh guru-guru mereka tetapi tidak pernah diajarkan untuk menjadi kritis. Menurut Freire, belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide. (hal. 33). Dalam bukunya, ia menekankan bahwa kualitas perilaku belajar (the act of study) tidak bisa diukur dengan jumlah halaman yang dibaca selama satu malam atau jumlah buku yang dibaca selama satu semester. (hal. 33)

Namun begitu, apa yang terjadi belakangan adalah memaksa anak didik untuk melahap semua buku tanpa mempertimbangkan bidang ilmu apa yang mereka senangi. Pendidikan bergaya bank yang dilkemukakan oleh Freire menjadi jawaban mengapa kaum intelektual saat ini begitu jauh dengan masyarakat. Sebab, ilmu pengetahuan hanya digunakan untuk mencari pekerjaan. Anak didik adalah komoditas sekolah – mereka diciptakan sesuai dengan keinginan sekolah. Setiap anak didik harus mampu bersaing dengan anak-anak didik lainnya. Mereka dikompetisikan seolah-olah adalah barang jual. Sekolah kemudian meluluskan anak didiknya dengan harapan mampu bersaing di dunia kerja.

Ada banyak hal yang dikemukakan oleh Freire dalam bukunya, Politik Pendidikan. Selain menjawab keresahan banyak orang terhadap sistem pendidikan yang bergaya bank, Freire juga mengkritisi berbagai persoalan pendidikan, terutama kaitannya dengan kebudayaan, kekuasaan, dan pembebasan. Dalam bukunya ini, Freire mencoba mengkontekstualisasikan korelasi antara kebudayaan, kekuasaan, dan pembebasan terhadap sistem pendidikan. Salah satu hal yang menarik dalam buku ini adalah gagasan kritis Freire terhadap pemberantasan buta huruf. Menurutnya, orang yang buta huruf bukan berarti bodoh. Sebagaimana kita menganggap buta huruf adalah penyakit yang harus diberantas. Intinya, buta huruf adalah salah satu hal yang begitu meresahkan. Sebab, tanpa mengenal tulisan orang pasti tidak mampu belajar dengan baik.

Freire melihat kasus buta huruf sebagai sesuatu hal yang tidak terjadi dengan sendirinya. Ia mengemukakan beberapa hipotesa seperti kebudayaan komunikasi, faktor lingkungan, dan faktor kekuasaan. Mereka yang buta huruf belum tentu bodoh karena bisa jadi budaya komunikasi di wilayah tersebut dilakukan dengan cara lisan. Selain itu, hanya orang yang memiliki kekuasaanlah yang mampu belajar membaca. Sebab, Freire beranggapan terdapat orang-orang yang hak meleknya dirampas.

Ada banyak hal yang digagas oleh Freire seperti aksi budaya dan reforma agraria, aksi budaya dan konsensientisasi, sampai menyinggung konsep pendidikan yang humanis. Di akhir buku ini juga disertakan transkrip wawancara dengan Freire yang menyoal berbagai serangan terhadap gagasannya. Salah satu hal yang selalu diserukan Freire adalah pendidikan semestinya menjadi tempat terciptanya ilmu pengetahuan baru. Sayangnya, sistem yang saat ini banyak berjalan hanya mengonsumsi ide lama. Freire juga terus menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi alat pembebasan. Namun dengan sistem yang berjalan seperti sekarang, pendidikan malah berlaku sebaliknya: membelenggu.

Di Indonesia sendiri masih banyak sistem pendidikan bergaya bank. Salah satu hal yang seharusnya dirombak karena ilmu pengetahuan hanya akan berjalan di tempat. Masyarakat terus mengonsumsi ide tanpa mendapatkan ruang untuk mencipta ide. Belum lagi dengan mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Lagi-lagi, pendidikan akan gagal untuk membebaskan manusia. Sebab, yang mampu mengenyam pendidikan adalah orang-orang elitis yang memiliki cukup uang untuk mendapatkan ruang pendidikan. Salah satu hal yang terlintas di benak saya ketika selesai membaca buku ini adalah: sudah waktunya untuk segera mengembalikan kembali ilmu pengetahuan kepada masyarakat tanpa batas.

Tentunya, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang peduli terhadap sistem pendidikan. Ada banyak hal yang didedah oleh Freire dan dapat dijadikan referensi yang tepat untuk mengubah pola belajar dan mengajar yang baik. Pola ini tentunya lebih manusiawi karena menjadikan siswa sebagai subyek aktif yang mampu berpikir. Pengajar dan anak didik bekerja sama untuk menciptakan ide baru sehingga terdapat interaksi yang nyata. Ilmu pengetahuan mesti menjadi alat pembebasan alih-alih membelenggu.

Membahas buku ini begitu memerlukan ruang yang luas dan bahkan bisa menjadi alternatif diskusi. Buku ini mampu membuka mata kita bahwa terdapat sistem yang terdapat dalam dunia pendidikan. Terlebih lagi ketika pendidikan yang seharusnya membebaskan justru membelenggu.

Jika persoalan sistem pendidikan begitu menyentil hati nurani, bacasaja Politik Pendidikan sebagai referensi. Banyak hal yang dapat digali dan membuat kita berpikir kembali, “apa yang saya pelajar hari ini di sekolah?”.