Judul: Selamatkan Anak-Anak
Penulis: Neil Postman
Penerbit: Resist Book
Terbit: November 2009
Tebal: v + 223 halaman

Judul Selamatkan Anak-Anak yang diberikan Neil Postman pada bukunya harus diakui terdengar sangat provokatif. Saat pertama kali melihat buku tersebut di sebuah pameran, batin saya jujur terusik. Di benak saya muncul berbagai pertanyaan seperti,“Apakah yang mengancam anak-anak sehingga mereka harus diselamatkan?”, “Siapa anak-anak yang harus diselamatkan?”, “Apakah saya termasuk bekas anak-anak yang terancam bahaya?”. Sinopsis di belakang buku menyatakan bahwa medialah ancaman terbesar bagi anak-anak.

Postman memecah buku ini menjadi dua bagian besar. Pertama, bab-bab yang membahas penemuan konsep mengenai masa kanak-kanak dan sisanya berfokus pada menghilangnya masa kanak-kanak. Hal yang menarik adalah bagian kelahiran dan kematian masa kanak-kanak sama-sama menyebutkan media sebagai penyebab utamanya. Jika dalam kepercayaan Agama Hindu dibutuhkan dua dewa untuk menciptakan dan menghancurkan semesta, maka media memiliki dua kekuatan tersebut untuk menciptakan sekaligus menghancurkan masa kanak-kanak.

Penemuan masa kanak-kanak terjadi karena seorang pria Jerman bernama Johannes Gottenburg menciptakan benda ajaib bernama mesin cetak. Sebelum mesin tersebut ditemukan, menurut Postman, konsep masa kanak-kanak belum terbentuk, khususnya dalam masyarakat Eropa. Hingga zaman Aristoteles, di Yunani tidak ada aturan-aturan moral dan hukum yang menentang praktek pembunuhan bayi. Selain itu, anak-anak Eropa di masa pertengahan memiliki akses terhadap hampir semua bentuk perilaku umum tanpa dibatasi oleh institusi-institusi yang membedakan mereka dengan kelompok usia dewasa. “Anak laki-laki berusia tujuh tahun adalah seorang pria dalam segala hal, kecuali kapasitasnya untuk bercinta dan berperang,” tutur J.H Plumb.

Penemuan mesin cetak mengubah itu semua. Jenis kedewasaan baru telah tercipta ketika ilmu-ilmu pengetahuan sudah dapat dicetak dengan masif ke atas kertas. Manusia cendekia telah lahir dan kemunculannya mewariskan apa yang disebut dengan anak-anak. Untuk menjadi dewasa, anak-anak harus mencapainya dengan cara membaca. Karenanya, peradaban Eropa menemukan-ulang sekolah dan masa kanak-kanak menjadi sebuah kebutuhan.

Fenomena tersebut dapat dilihat sebagai relasi media dan masyarakat melalui model makro yang digagas oleh Graeme Burton. Model ini menyatakan bahwa dalam relasinya dengan masyarakat, media memaksakan pengaruhnya. Akibatnya, masyarakat juga dipaksa berubah. Hal ini yang terjadi pada penemuan mesin cetak dan pengaruhnya terhadap lahirnya masa kanak-kanak di Eropa pada Abad Pertengahan. Munculnya mesin cetak memaksa masyarakat Eropa untuk menemukan-ulang sekolah yang akan diisi oleh anak-anak. Karenanya, secara alami masa kanak-kanak lahir akibat paksaan pengaruh mesin cetak terhadap masyarakat Eropa Abad Pertengahan.

Postman kemudian menjabarkan bagaimana di zaman modern batas antara masa kanak-kanak dan masa dewasa malah semakin terkikis akibat media massa. Televisi menjadi tersangka utamanya. Menurut Postman, televisi mengikis garis batas masa kanak-kanak dan masa dewasa lewat tiga cara. Pertama, penonton tidak memerlukan pelatihan khusus untuk dapat menonton televisi. Kedua, televisi tidak memberi tuntutan yang rumit baik pada kesadaran dan tindakan. Terakhir, penonton tidak dipisahkan ketika menonton televisi. Sederhananya, televisi membuat semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, dapat mengakses informasi yang sama. Batas antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dengan cepat akan lenyap.

Televisi bekerja dengan cara yang sama seperti saat mesin cetak melahirkan konsep masa kanak-kanak. Bedanya, jika dulu pengaruh mesin cetak memaksa masyarakat melahirkan batas antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, maka televisi memaksa batas tersebut hilang. Hal ini berjalan begitu simultan karena kepentingan yang ada di balik televisi sangatlah besar. Kepentingan politik dan ekonomi berperan besar menciptakan pengaruh yang diterima masyarakat dari televisi saat ini. Oleh sebab itu, televisi dapat memaksakan pengaruhnya terhadap masyarakat. Hasilnya, masyarakat dipaksa berubah dan masa kanak-kanak kembali menjadi sesuatu yang ambigu.

Masih penasaran dengan isi bukunya? bacasaja Selamatkan Anak-Anak!