Judul: Inteligensi Embun Pagi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Februari 2016
Tebal: xiv + 710 halaman
ISBN: 978-602-291-131-9

Membaca buku ini membuat pikiran saya seakan mau meledak. Bagaimana tidak? Semua informasi, semua pertanyaan yang saya simpan dari serial pertama hingga kelima, jawabannya tumpah ruah di buku ini. Akhirnya, untuk mengatasi banjir informasi dan menanggulangi kebingungan, saya buatlah sebuah “peta” di selembar kertas.

Gio, Dimas, Reuben, Bodhi, Elektra, Mpret, Kell, Zarah, Alfa, dan (sebagian besar) tokoh-tokoh sampingan lainnya kembali lagi. Layaknya sebuah reuni, mereka akhirnya bertemu. Waktu untuk menuntaskan sebuah misi telah tiba.

Pesan saya cuma satu, tak masalah jika kalian membaca serial Supernova tidak dengan berurutan. Yang penting, seri Inteligensi Embun Pagi –selanjutnya akan saya sebut dengan IEP– ini dibaca terakhir.

Sebelum membahas lebih jauh, ada satu pertanyaan besar di kepala saya pada buku yang tak hanya sekedar “menjual” ending, namun juga jalan cerita, ini. Sebetulnya, pesan apa yang coba Dee antarkan melalui novel ini? Atau gampangnya, sebenarnya Teh Dee mau bilang apa?

Dan sejauh analisis singkat saya, ada dua hal yang bisa saya tangkap, yakni eksistensi dan hal-hal mendasar tentang kehidupan. Tentang manusia serta seperangkat tetek-bengek kehidupannya, kematian, mitos-mitos, dan kawan-kawannya.

“Manusia itu ngomong A, padahal B. Mukanya bikin C, padahal di hatinya D. Tujuannya E, tapi mutar-mutar dulu sampai Z. Bahasa itu, kan, gunanya buat jadi topeng. Manusia belum sanggup transparan…. manusia jadi ndak mudeng sama efek perbuatannya sendiri,” – halaman 415-416.

Lepas dari itu, sejujurnya, saya pribadi tidak menaruh ekspetasi apapun terhadap serial terakhir Supernova ini. Tapi, harapan bahwa semoga buku ini memiliki akhir yang “nendang” tetaplah ada –dan saya yakin semua penggemar Dee pasti memiliki harapan yang sama dengan saya. Sayangnya, harapan sederhana itu, tidak saya dapatkan di buku ini.

Buku ini bagus, saya sepakat. Buku ini memiliki plot yang terbilang rapi, saya juga sepakat. IEP ditulis dengan cukup padat, ya, saya melihat usaha Dee dalam memadatkan isi cerita. Pembangunan karakter –dari serial pertama hingga terakhir– oke, saya juga setuju. Jaring-jaring yang Dee rajut untuk menghubungkan satu tokoh dengan tokoh lainnya juga rapi. Soal riset yang dilakukan Dee, oh, saya tak meragukan lagi –kalau saya sendiri belum tentu sanggup dan mau untuk riset sedalam itu. Lalu, akhir cerita juga tidak tertebak karena buku ini memuat banyak twist kecil –yang mana menjadi poin menarik tambahan– juga patut diapresiasi. Hanya saja, ya itu tadi, saya merasa tidak ada yang spesial dari buku ini.

Dibandingkan dengan dua saudaranya, KPBJ dan Akar, seri terakhir ini agak hambar. Agak nanggung. Setidaknya, di KPBJ ada hal substansial yang diangkat –astronomi, mekanika kuantum, dan tetek-bengeknya. Sedangkan, IEP lebih penuh drama –terlebih di keping-keping akhir setelah membahas nasib Alfa.

Lebih jauh, saya juga menyayangkan adanya tokoh yang kemudian “terbuang” begitu saja di novel ini. Padahal, pada seri sebelumnya tokoh tersebut memiliki peranan yang cukup penting. Dan lagi ini, si Diva. Kalau saya tengok peta alias coret-coretan yang saya buat, saya berkesimpulan bahwa Divalah “akar” dari supernova ini. Namun, lagi-lagi peran Diva dalam buku ini tidak diperlihatkan, hanya sekelebat.

Tapi, bagaimanapun saya tetap menghormati pertimbangan-pertimbangan Dee dalam menuliskan episode terakhir ini. Enggak kebayang juga soalnya, jika semua tokoh-tokoh sentral dan sampingan –tapi punya peran yang penting, seperti Kalden– di episode-episode sebelumnya tumpah ruah di buku ini.

Sementara itu, di segi teknis, halaman dalam buku ini terlihat rapi. Saya berani jamin, mata pembaca pasti merasa nyaman saat membacanya. Dan mungkin, itu juga salah satu faktor mengapa ada pembaca yang hanya perlu waktu kurang dari 24 jam untuk menandaskan novel setebal 700+ halaman ini.

Lebih lanjut, soal aksara, sepanjang membaca buku ini saya sama sekali tidak menemukan adanya kesalahan penulisan. Lalu soal kover, tata letak dan desain gambarnya memang terlihat sangat sederhana. Namun, di balik itu, saya justru melihat kesan elegan. Tidak mencolok –dalam hal warna– tapi tetap menarik.

Terakhir, lepas dari segala komentar saya sebelumnya, saya tetap menganggap serial Supernova ini adalah buku fiksi-ilmiah terbaik di Indonesia –yang pernah saya baca. Terakhir lagi, kalau ditanya siapa tokoh favorit saya, saya akan berteriak, “Bodhi sama Kell lah!”

Penasaran dengan kelanjutan akhir tokoh-tokoh di serial Supernova? bacasaja Intelegensi Embun Pagi!

Catatan:

  • saya sengaja tidak menuliskan sinopsis pada tulisan kali ini, takut-takut malah jadi spoiler
  • maaf jika saya terlalu sering membandingkan episode terakhir Supernova ini dengan episode-episode sebelumnya, sebab terlalu sulit rasanya untuk tidak membanding-bandingkan
  • saya menolak memberikan nilai untuk buku