Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kedua, November 2015
Tebal: 192 halaman
ISBN: 978-602-03-2294-0

Novel ini mengangkat kisah kehidupan tiga generasi perempuan suku Dani, yakni Anabel, Lisbeth, dan Leksi. Anabel, yang dipanggil dengan sebuatan Mabel (kepanjangan dari Mama Anabel), adalah sosok yang mandiri, pemberani, tegas, dan mempunyai wawasan yang lebih luas dibanding para perempuan Papua di lingkungannya. Namun, tidak begitu dengan Lisbeth. Berbeda dengan Mabel yang selalu berani mengutarakan isi pikirannya, ketraumaan akan luka di masa lalu membuat Lisbeth cenderung diam dan manutan. Sedangkan, untuk Leksi sendiri, si gadis kecil yang masih berumur 7 tahun itu, mewarisi sedikit keberanian Mabel, sedikit ngeyel, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Melalui ketiga tokoh tersebut, penulis berusaha untuk menyuarakan berbagai kenyataan pahit yang dialami penduduk Papua. Mulai dari tertindasnya kaum perempuan oleh kaum laki-laki[1] hingga tertindasnya penduduk di sana secara keseluruhan terhadap orang-orang asing yang ingin mengeruk kekayaan alam Papua.

Nah, Mabel meyakini bahwa penindasan yang terjadi di tanahnya itu disebabkan oleh jerat kebodohan. Kaum perempuan terbelenggu oleh takdir yang mengatakan bahwa hidup hanya untuk mengurus keluarga, kebun, dan babi. Sedangkan, kaum lelaki fokus berburu. Oleh karenanya, keinginan yang kuat agar terbebas dari penindasan itulah yang membuat Mabel dan Lisbeth kemudian bahu membahu mencari uang agar Leksi bisa terus sekolah.

Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan – jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata – mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – halaman 163.

Hebatnya, usaha mabel dalam melawan penindasan dengan melawan kebodohan itu tidak hanya ia lakukan dalam lingkup keluarganya saja. Melainkan juga pada lingkungan sekitarnya. Meski tak sedikit yang tidak berpihak dan memiliki visi yang sama dengannya, namun Mabel tidak pernah menyerah dan berhenti untuk menyuarakan pendapatnya.

***

Nah, selain ketiga tokoh di atas, tokoh pendukung yang ada dalam novel ini di antaranya adalah Pum si anjing dan Kwee si babi. Keduanya adalah binatang peliharaan Mabel. Berbeda dengan Pum yang sudah tergolong tua, Kwee terbilang masih muda, seumuran dengan Leksi. Yang menyamakan Pum dan Kwee adalah sifatnya yang sama-sama keras kepala. Tapi, meski begitu mereka tak pernah ribut yang melibatkan adu fisik.

Secara keseluruhan, novel ini terbilang menarik. Anindita menuliskan kisah di dalamnya dengan cukup rapi dan tidak bertele-tele. Diksi yang digunakan pun sederhana tapi tetap terasa “renyah”. Sementara itu, terkait dengan tema atau isu yang diangkat, melalui novel ini Anindita mampu membuktikan bahwa ia bisa menggambarkan dan menyampaikan secuil ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di sana dengan baik. Dirinya memaparkan persoalan-persoalan, seperti budaya patriarki, kapitalisme, politik yang ada di tanah Papua dengan bahasa yang mudah dipahami dan jauh dari kesan menggurui.

Lebih lanjut, poin menarik dalam novel ini juga terdapat dalam penggunaan sudut pandang. Kisah di dalamnya ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, melalui “kacamata” tokoh Aku (Leksi), Pum, dan Kwee. Di sini, Pum dan Kwee yang mana adalah binatang justru diberikan porsi bercerita yang lebih dominan dibanding si tokoh manusia.

Lepas dari itu, dari segi teknis sendiri saya pikir tidak ada masalah. Tata letak halaman dalamnya rapi. Soal segi keterbacaan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Sementara itu, untuk kovernya sendiri terbilang cantik. Desain gambar dan pemilihan warnanya terkesan eksotis.

Penasaran dengan ceritanya? Maka, bacasaja Tanah Tabu!

 


 

[1] Di Papua, budaya patriaki juga masih sangat kental. Lelaki adalah penguasa, sedangkan perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah. Oleh karenanya, mereka patut untuk dilindungi dari pihak musuh, mengingat perang antarsuku di Papua masih kerap terjadi. Sayangnya, “perlindungan” yang diberikan kaum laki-laki terhadap perempuan itu tak lantas membuat perempuan Papua terbebas dari penindasan, baik fisik maupun psikis, oleh keluarganya sendiri. Sebab, tak sedikit suami yang tega untuk menghajar istrinya, seperti yang digambarkan dalam kehidupan keluarga Yosi dalam cerita ini.